Kisah di Balik Perang Jamal

Perang jamal adalah perang yang dipimpin oleh tiga orang mulia yaitu Istri Nabi ‘A'isyah binti Abu Bakar, Thalhah Bin Ubaidillah dan Zubeir bin Awwam melawan Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan maksud menuntut agar khalifah Ali menghukum pembunuh Utsman. Meskipun hampir dipastikan bahwa tidak seorang-pun yang tahu tentang siapa sebenarnya pembunuh Utsman bin affan, namun karena suatu ijtihad yang diyakini-lah,  ‘Aisyah, Thalhah dan Zubeir berperang melawan Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib yang dikenal dengan perang jamal (Waqi’atul Jamal).

Dalam satu riwayat, di tengah perang jamal yang memakan korban lebih dari 10.000 orang itu sedang berkecamuk ada sebuah kisah yang mengharu biru. Kisah itu adalah saat Ali mengutus seseorang untuk menemui kedua sahabatnya, yaitu Thalhah dan Zubeir.

Akhirnya ketika malam hari tiba, saat kedua pasukan sedang beristirahat, mereka berdua datang dan bertemulah ketiga sahabat yang dulu pernah hidup bersama Nabi, pernah berperang  bersama Nabi, dan tahu persis turunnya wahyu. Mereka bertiga berpelukan, tak terasa air mata mereka bertiga meleleh. Kenangan demi kenangan terbayang begitu indah. Namun kini keadaan terasa  menyakitkan dan menyedihkan. Dulu pedang mereka berbaris seayun, langkah mereka sama untuk perang melawan kaum kafir, tangan mereka bergandengan. Namun kini, mereka harus berhadapan saling menghunus pedang.

Sesudah Ali menghapus air mata, Ali memegang tangan Thalhah dan menatap dalam lalu berkata, “ingatkah engkau wahai Thalhah, mengapa Allah menurunkan ayat hijab bagi istri-istri Nabi? dan mengapa Allah melarang kita untuk menikahi janda beliau? Bukankah ayat hijab itu turun karena Nabi melihatmu berada bersama ‘Aisyah..? Wahai, Thalhah. Allah melarangmu mengajak wanita muslimah membuka hijab, tapi mengapa engkau sekarang membawa ‘Aisyah ke medan perang?"

Mendengar ucapan Ali, Thalhah semakin menangis tersendu-sendu.

Lalu Ali berkata lagi, “Ingatkah engkau, wahai sahabatku, bahwa ayat yang melarang untuk menikahi janda-janda Nabi itu juga turun karena niatmu untuk menikahi ‘Aisyah jikalau Nabi wafat?”

Mendengar ucapan Ali, Thalhah makin tak kuasa menahan tangis, ia lalu memeluk Ali dan menangis di bahunya. Hal itulah yang membuat mereka sepakat berdamai untuk mengahiri perang.

Namun fakta berkata lain. Keesokan harinya tak disangka, api fitnah itu kembali menyemburat tersebab oleh adu domba dari pihak yang tidak setuju dengan perdamaian.
Akibatnya, dua orang sahabat nabi itu (Thalhah dan Zubeir) terbunuh. Ali bin Abi Thalib dengan duka yang sangat dalam, sore itu juga menggali sendiri kuburan untuk kedua sahabatnya itu.

Pada saat penguburan selesai, Ali menggendong putra Thalhah yang masih kecil. Ali berbisik di telinga anak kecil itu,

“Nak,  aku sungguh berharap, aku dan ayahmu termasuk orang-orang yang difirmankan Allah dalam surat Al-Hijr ayat 47  'Dan Kami lenyapkan rasa dendam dalam hati mereka, sedang mereka bersaudara duduk berhadap-hadapan  di atas dipan-dipan (surga).”

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel