Ketika Dunia Ada di Tangan Aisyah ra.

Dunia memang diciptakan Allah dengan segala pernak-pernik perhiasannya yang menjadikannya indah. Kekuasaan, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, sawah dan ladang yang luas bisa melenakan siapa saja.

Manusia berlomba-lomba untuk memilikinya, lalu ketika sudah memilikinya maka perlombaan berlanjut untuk semakin menambah dan menumpuknya. Namun apakah hal ini berlaku juga ketika dunia ada di tangan Aisyah R.A? Mari simak kisahnya,

Dari Jabir R.A, suatu hari nabi Muhammad SAW beserta para sahabatnya berjalan melewati sebuah pasar. Di sana beliau melihat bangkai seekor anak kambing yang telinganya telah putus.

Para sahabat menjawab: “Kami tidak ingin memilikinya wahai Rasulullah”. Rasulullah bersabda:“Apakah kalian mau memilikinya jika kambing tersebut diberikan secara cuma-cuma?”

Para sahabat menjawab: “Demi Allah, sekiranya dia hidup pun kami tidak menyukainya, karena telinganya putus apalagi kambing tersebut sudah menjadi bangkai”.

Nabi saw. bersabda: "Demi Allah, sesungguhnya dunia ini menurut pandangan Allah, lebih hina dari pandanganmu terhadap bangkai anak kambing ini" (H.R. Muslim)

Prinsip inilah yang selalu diterapkan dalam keseharian kehidupan Rasulullah. Ajaran ini ditularkan pula oleh beliau pada keluarganya, termasuk pada Aisyah R.A selaku istrinya. Sehingga keseharian Aisyah selalu ada dalam kesederhanaan.

Suatu hari Aisyah R.A mendapatkan hadiah dua buah kantung harta yang masing-masing berisi uang 100.000 dirham. Setelah Rasulullah wafat pun, Aisyah memang sering menerima hadiah seperti ini diantaranya dari Amir Muawiyah R.A, Abdullah bin Umar R.A, Zubair R.A dan sahabat-sahabat yang lainnya karena pada saat itu kaum muslimin sering memperoleh kemenangan dalam peperangan sehingga para sahabat banyak memiliki kekayaan dari ghanimah (harta rampasan perang).

Jika sekarang kita kalkulasikan uang yang diterima Aisyah ke dalam rupiah, satu dirham sama dengan Rp.3.715,7. Aisyah mendapatkan 2 buah kantung harta yang masing-masing berisi 100.000 dirham. Dengan kata lain, hari itu Aisyah memperoleh 200.000 dirham. Maka total yang di dapat adalah 200.000 dirham x Rp.3.715,7= Rp.743.140.000,-. Sungguh jumlah yang sangat banyak.

Jika uang sebanyak itu berada di tangan wanita (yang mengaku sebagai) muslimah zaman sekarang, tentu yang langsung terlintas di benaknya adalah berbagai macam barang kebutuhan pribadi yang bisa dibelinya. Mulai dari pakaian, tas, sepatu, kerudung branded dan lain sebagainya. Dia pun akan memanjakan lidahnya dan memperturutkan nafsu perutnya dengan rakus, makan berbagai jenis makanan serba lezat dengan harga selangit di restoran ternama. Bahkan mungkin dia akan melakukan liburan ke luar negeri dimana isi dari liburan tersebut hanyalah bersenang-senang tanpa ingat waktu dan kewajiban ibadah.

Namun tidak demikian halnya dengan Aisyah, dunia bukanlah prioritas utamanya. Aisyah R.A membagi-bagikan uang tersebut kepada fakir miskin dari pagi hingga sore hari sehingga uang itu habis tak tersisa. Menjelang maghrib tiba, Aisyah berkata pada pembantunya: “Bawalah makanan untuk berbuka”. Rupanya pada hari tersebut Aisyah sedang menjalankan ibadah shaum. Kemudian pembantunya membawakan sepotong roti dan minyak zaitun. Aisyah R.A bertanya: “Adakah makanan yang lebih baik dari ini?”. Maka pembantunya menjawab: “Seandainya tadi engkau menyisakan 1 dirham, tentu kita dapat membeli sepotong daging”.

Lihatlah ternyata uang 1 dirham di zaman Aisyah pun mampu dibelikan sepotong daging. Ini berarti nilai tukar 1 dirham saat itu pun lumayan besar. Jadi tidak salah jika di atas kita menghitung bahwa uang yang diterima Aisyah sekitar 700 juta rupiah. Namun tanpa merasa sayang, Aisyah membagi-bagikan uang tersebut pada fakir miskin sampai habis tanpa menyisakan 1 dirham pun. Padahal hari itu dia sedang berpuasa, dimana biasanya kebanyakan orang berperilaku mengumpulkan sebanyak mungkin makanan dari berbagai jenis untuk disantap saat berbuka.

Aisyah menang melawan nafsu perutnya, dia tidak diperbudak oleh makanan. Aisyah sadar bahwa makan semata-mata hanyalah aktifitas untuk memperoleh tenaga yang bisa dipergunakannya untuk mendekat pada Robbnya. Ibadah shaum selalu mewarnai kehidupannya. Saat berbuka tidaklah Ia berubah rakus, namun berhenti makan sebelum kenyang. Aktifitas makan pun penuh dengan rasa syukur karena masih bisa menikmati makanan dibanding saudara lainnya di suatu tempat yang mungkin tengah dilanda lapar.

Aisyah tahu bahwa kampung akhirat lebih baik baginya daripada kehidupan dunia dengan segala pernak-perniknya. Sebagaimana firmanNya:

“Dan akhir itu sesungguhnya lebih baik bagimu dari permulaan”.(QS Ad Dhuha: 4)

Maka Aisyah tidak ragu-ragu untuk menukar kesenangan hidup dunia dengan akhirat. Harta yang diperoleh tidak dipergunakannya untuk berfoya-foya. Dia tetap hidup dalam kesederhanaan.
Bahkan pernah, Abdullah bin Zubair R.A (keponakan Aisyah R.A) berkata: “Saya akan menghentikan kebiasaan bibi saya yang selalu bersedekah”. Perkataan ini didasari oleh rasa sayang Abdullah bin Zubair kepada bibinya yang selalu menyedekahkan harta yang diperolehnya sedangkan dia sendiri hidup serba kekurangan.

Ketika berita ini sampai ke telinga Aisyah, dengan perasaan marah Aisyah berkata: “mengapa kamu melarang saya bersedekah?”. Kemudian Aisyah bersumpah tidak akan berbicara lagi dengan keponakannya, sehingga ibnu Zubair sangat menyesali perkataannya. Banyak para sahabat yang membujuk Aisyah agar mencabut perkataannya, namun Aisyah tetap teguh akan pendiriannya.

Lalu Abdullah bin Zubair R.A meminta bantuan pada Hasan R.A dan Husein R.A (cucu Rasulullah SAW) untuk berbicara dengan Aisyah R.A. Maka pergilah keduanya menemui Aisyah R.A diikuti Abdullah bin Zubair dari belakang. Keduanya meminta izin agar diperbolehkan masuk kamar Aisyah R.A dan berbicara di balik hijab.

Pada saat itulah Abdullah bin Zubair R.A masuk ke dalam hijab dan memeluk bibinya seraya meminta maaf. Hasan R.A dan Husein R.A pun mengingatkan Aisyah R.A tentang larangan memutuskan silaturahmi dengan sesama muslim. Akhirnya Aisyah r.a bersedia memaafkan ibnu Zubair R.A dan sebagai tebusan atas pelanggaran sumpahnya, Aisyah R.A membebaskan 2 orang hamba sahaya.

Inilah gambaran kehidupan Aisyah R.A, ibu kaum muslimin yang begitu gemar menyedekahkan harta di tangannya. Namun dengan kelebihannya ini, tidaklah menjadikan beliau ujub dalam hal amal sholeh. Malah beliau mempunyai perasaan takut yang sangat akan Allah SWT, mempunyai perasaan takut yang sangat akan hari perhitungan amal kelak. Sehingga beliau sering berkata:“Seandainya saya sehelai daun dari pepohonan yang selalu berdzikir kepadaNya, yang tidak akan di hisab di akhirat nanti….”.

Lalu kita?.... sudahkah kita memiliki perasaan takut seperti itu? (Pustaka Madrasah - kabarmakkah.com, 10/15)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel