Saat Rasulullah Saw. Menghukum Ahlul Baitnya

Ahlul bait Rasulullah saw. adalah orang-orang mulia. Mereka sangat mencintai Rasulullah saw.. Sama seperti para sahabat beliau, ahlul bait Rasulullah juga tidak ingin ada sesuatu yang mencelakakan Rasulullah saw.. Jika para sahabat mengkhawatirkan kesehatan Rasulullah saw. sehingga terjadi tragedi Kamis, maka ahlul bait pun pernah dengan terpaksa ‘memaksa’ Rasulullah saw. mengonsumsi obat.



Adalah wajar, ketika salah satu anggota keluarga kita mengalami sakit, maka segala cara pun dilakukan agar anggota keluarga sembuh. Tak terkecuali, ‘memaksa’ untuk meminum obat yang tidak disukainya.

Dikisahkan saat kondisi Rasulullah saw. terus memburuk, keluarga beliau berkumpul di sekeliling beliau dan meminta beliau meminum obat untuk penyakit beliau. Namun nabi saw. menolak dan melarang ahlul bait, termasuk Ali, Abbas, Fatimah, dan istri-istri beliau untuk memberi obat apapun.

Tentu sikap ini, membuat ahlul bait merasa serba salah. Satu sisi, mereka mengkhawatirkan kesehatan Rasulullah saw. dan satu sisi dilarang Rasulullah saw. untuk memberi obat. Akhirnya, ahlul bait pun bersepakat untuk memberi obat kepada Rasulullah saw.. Hal itu tentu bukan didasarkan atas ketidaktaatan mereka atas perintah Rasulullah, tetapi didasarkan kekhawatiran mereka semata.
Akibatnya, Rasulullah saw. begitu marah ketika mengetahui itu. Bahkan, beliau menghukum mereka (ahlul bait beliau) dengan membuat mereka semua meminum obat tersebut.

Peristiwa ini terekam dalam riwayat-riwayat berikut:
Semua keluarga beliau – istri-istri beliau, putri beliau (Fathimah), al-Abbas, dan Ali – berkumpul (di sekeliling beliau). Asma berkata, “Sakit beliau ini tidak lain adalah radang selaput dada, sehingga kita paksa beliau untuk meminum obat.” Dan, kita melakukannya, dan setelah beliau sembuh, beliau bertanya siapa yang telah melakukan itu pada beliau. (Tarikh at-Tabari Jilid 9, hal 178)

Disebutkan oleh Ibnu Ishaq dalam 'Sirah Rasulullah' sebagai berikut.
Lalu beliau (Nabi) datang dan memasuki rumahnya dan rasa sakit bertambah sampai beliau kelelahan. Kemudian sebagian istri beliau berkumpul di sekitarnya, Ummu Salamah dan Maimunah-dan beberapa istri dari kaum Muslimin (di antara mereka Asma)-sementara paman beliau Abbas ada bersama beliau, dan mereka setuju untuk memaksa beliau untuk meminum obat. Abbas berkata, “Biarkan aku memaksanya,” tetapi mereka melakukannya (sebagai gantinya). Ketika beliau sembuh, beliau bertanya siapa yang telah memperlakukan dia (dengan obat-obatan) demikian. Ketika mereka mengatakan bahwa itu paman beliau, beliau (Nabi) bertanya mengapa mereka melakukan itu? Ketika beliau bertanya mengapa mereka melakukan itu, pamannya berkata, “Kami takut bahwa Anda terkena radang selaput dada.” Dia (Nabi ) menjawab, “Ini adalah penyakit yang Allah tidak akan menimpakannya kepadaku. Jangan biarkan seorangpun yang berhenti di rumah ini sampai mereka telah dipaksa untuk meminum obat ini (yaitu sebagai hukuman).” (Ibnu Ishak, Sirah Rasulullah, hal 680)

Kami (Ahlul Bait) memaksa Rasulullah untuk meminum obat selama beliau sakit. Beliau mengatakan jangan memaksa beliau, tapi kami mengatakan bahwa orang sakit tidak suka obat. Setelah beliau sembuh, ia (Nabi) berkata, “Janganlah seorang pun tetap tinggal di rumah sampai (semua orang dari kalian) telah dipaksa untuk meminum obat ini.” (Tarikh at-Tabari, Jilid 9, hal 177)

Begitulah kecintaan ahlul bait atas Rasulullah saw. dan juga cara Rasulullah saw. mendidik mereka. Semoga salam dan kesejahteraan selalu tercurahkan atas Rasullah saw. dan keluarga beliau, baik istri-istri beliau, putera-puteri beliau, sanak keluarga, dan keturunannya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel