Semua Ulama Mengingkari Bid’ah; Ancaman terhadap Bid’ah dan Pelakunya

ancaman terhadap perbuatan bid'ah dan pelaku bidah
Banyak sekali ayat al-Qur’an dengan secara tidak langsung, begitu juga hadis-hadis Nabi dengan cara langsung mengancam terhadap bid’ah dan ahli bid’ah. Bahkan ada sebuah hadis mengatakan bahwa ahli bid’ah itu anjing neraka.

Ulama-ulama Islam mengetahui hal itu sebab semuanya tertulis dengan jelas hitam di atas putih, baik dalam al-Qur’an maupun dalam kitab-kitab hadis. Oleh karenanya, tidak seorang pun  ulama-ulama ahlussunah wal jama’ah yang menganjurkan umat Islam untuk membuat bid’ah karena mereka tahu akan bahaya dan akibatnya.


Dalil tentang Ancaman terhadap Bid'ah dan Pelakunya


Berikut adalah hadis-hadis yang mengancam perbuatan bid’ah dan ahli bid’ah:

Pertama


Dalam kitab hadis Sunan Ibnu Majah:

أبى الله أن يقبل عمل صاحب بدعة حتى يدع بدعته (رواه ابن ماجة)

Artinya:
“Allah enggan menerima ibadah ahli bid’ah, hingga ia meninggalkan bid’ahnya itu.” (H.R. Ibnu Majah)

Menurut hadis ini amalan ibadah seorang ahli bid’ah tidak akan diterima oleh Allah swt.. Bahkan, tidak saja amalan bid’ahnya, tetapi seluruh amalnya tidak diterima Allah hingga ia menghentikan perbuatan bid’ah itu.

Kedua


Rasulullah saw. bersabda:

لا يقبل الله لصاحب بدعة صوما ولا صلاة ولا حجا ولا عمرة ولا جهادا ولا عدلا, يخرج من الإسلام كما يخرج الشعرة من العجين (رواه ابن ماجة)

Artinya:
“Allah tidak menerima amal ibadah ahli bid’ah, baik puasa, salat, sedekah, haji, umrah, jihad, tobat, dan tebusannya. Ia keluar dari agama Islam sebagaimana keluarnya sehelai bulu dari tepung.” (H.R. Ibnu Majah)

Sungguh besar sekali ancaman Allah atas pelaku bid’ah, hingga seluruh amalannya tiak diterimaNya sebagaimana dalam hadis di atas.

Ketiga


Tersebut dalam kitab Sahih Muslim, Rasulullah saw. bersabda:

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو ردّ (رواه مسلم)

Artinya:
Dari Ummul Mukminin ra., bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang mengerjakan amal ibadah yang tidak kami perintahkan, maka amalnya itu tertolak.” (H.R. Muslim)

Hadis yang serupa dengan ini juga diriwayatkan oleh imam Bukhari. Dengan ringkas dapat dikatakan bahwa semua amalan bid’ah yaitu amalan yang dibuat-buat saja tanpa perintah dari Rasulullah saw., maka amal ibadah tersebut akan ditolak oleh Allah swt..

Dalam mensyarah atau member komentar hadis ini, imam Nawawi ra. mengatakan bahwa pengertian ditolak itu adlaah batal atau batil, tidak masuk hitungan. “Ini hadis jelas,” kata beliau. Yaitu, menolak semua ibadah yang diada-adakan, ibadah bid’ah. (lihat syarah Muslim XII, hal. 16)

Keempat


Di dalam hadis Muslim juga terdapat hadis yang berbunyi:

من أحدث فى أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد (رواه مسلم)

Artinya:
“Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan kami ini (maksudnya: urusan agama) sesuatu yang tidak ada dalam agama maka perbuatan itu ditolak.” (H.R. Muslim)

Jadi, amalah bid’ah baik yang diada-adakan oleh kita sendiri ataupun diada-adakan oleh orang lain, semuanya adalah batal dan tidak diterima oleh Allah swt.. Kalau sudah ditolak oleh Allah dan masih dikerjakan juga, maka itu berarti dosa. Dan, bagi yang mengerjakannya akan dihukum di akhirat nanti.

Kelima


Dari seorang sahabat Rasulullah saw. bernama Irbadh bin Sariyah berkata bahwa suatu hari Rasulullah mengajar kami dengan suatu pengajaran yang menggetarkan hati dan meneteskan air mata. Maka kami berkata kepada beliau bahwa pengajarannya itu seolah-olah sebagai pengajaran pamitan.

اوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن عبدا حبشيا فإنه من يعش منكم بعدى فسيرى الله اختلافا كثيرا, فعليكم بسنتى وسنة الخلفاء المهديين الراشدين, تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجد, وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل بدعة ضلالة (رواه أبو داود)

Artinya
“Saya berwasiat kepada kamu sekalian supaya kamu bertakwa kepada Allah, mendengar dan patuh kepada (Ulil Amri) walaupun ia orang berkulit hitam sekalipun.  Selanjutnya, beliau mewasiatkan siapa yang hidup lama diantara kamu setelah aku, maka kalian akan melihat perselisihan yang banyak. Ketika itu, hendaknya kamu mengikuti sunahku dan sunah khlifah-khalifah rasyidin yang dapat petunjuk yang benar. Berpegang teguhlah dengan semua itu dan gigitlah dengan gigi gerahammu. Jauhilah perkara baru yang diada-adakan (bid’ah), karena ‘semua’ yang baru yang diada-adakan itu adalah bid’ah dan ‘semua bid’ah’ itu adalah sesat.” (H.R. Abu Dawud)

Hadis ini dimasukkan pula oleh imam Nawawi dalam kumpulan hadis arba’in.

Keenam


أنه من أحيى سنة من سنتى قد أميتت بعدى فله من الأجر مثل من عمل بها من غير أن ينقص من أجورهم شيئا ومن ابتدع بدعة ضلالة لا ترضى الله ورسوله كان عليه مثل آثام من عمل بها لا ينقص ذلك من أوزار الناس شيئا (رواه الترمذى)

Artinya
“Barangsiapa yang menghidupkan sunahku yang sudah dimatikan orang setelahku maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya, tanpa dikurangi, seperti orang yang mengamalkan sunah. Dan, barangsiapa yang mengamalkan suatu bid’ah yang sesat, yang tidak diridai oleh Allah dan Rasul, maka ia mendapat pula dosa-dosa yang mengamalkan bid’ah tanpa dikurangi sedikit pun.” (H.R. Tirmizi)

Dari hadis ini diketahui bahwa orang yang mengada-adakan suatu bid’ah, maka ia berdosa dan ia juga mendapat pula sebanyak dosa orang yang mengamalkan bid’ah itu hingga hari kiamat.

Ketujuh


إن الله لا ينزع العلم بعد أن أعطاهمه انتزاعا ولكن ينزعه منهم مع قبض العلماء بعلمهم فيبقى ناس جهال يستفتون فيفتون برأيهم فيضلن يضلون (روا البخارى)

Artinya
“Bahwasanya Allah tidak mencabut ilmu agama begitu saja dari umat, tetapi Ia ambil ilmu itu dari umat bersamaan dengan diwafatkannya ulama-ulama bersama ilmunya. Maka tinggallah manusia-manusia yang bodoh. Orang-orang yang bodoh ini dimintai fatwa agama maka mereka berfatwa dengan pendapat mereka saja. Maka tersesatlah mereka dan mereka menyesatkan orang pula.” (H.R. Bukhari)

Demikianlah hadis-hadis yang mencela perbuatan bid’ah dan pelaku bid’ah yang ada dalam kitab-kitab hadis. Uraian di atas adalah kutipan dari tulisan K.H. Sirajuddin Abbas dalam 40 Masalah Agama III dengan perubahan bahasa sedikit. Adapun penjelasan tentang bid’ah dan kategorinya, insya Allah akan diterangkan pada pembahasan selanjutnya.

Dan, yang perlu digarisbawahi bahwa ijtihad ulama bukanlah termasuk dalam kategori bid'ah. Demikian juga, perkara yang menjadi ikhtilaf oleh ulama, tidak sepatutnya disebut sebagai perkara bid'ah. Akhirnya, semoga kita  dijauhkan dari perbuatan bid'ah dan tidak digolongkan termasuk ahli bid'ah.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel