Ibnu Taimiyah Tidak Menganjurkan Maulid, Tapi...

pendapat ibnu taimiyah tentang maulid nabi
Kegiatan maulid menjadi ikhtilaf di kalangan ulama. Maka sikap yang tepat dalam masalah ini adalah saling menghargai pendapat tersebut dengan lapang. Sangat tidak elok, jika dikarenakan ikhtilaf ini menjadikan hubungan sesama muslim menjadi renggang.

Adalah Ibnu Taimiyah, seorang ulama hanabilah yang memiliki pendapat ketidaksetujuan akan kegiatan maulid ini. Namun demikian, beliau tidak menyalahkan sepenuhnya pelaku maulid. Bahkan dikatakan, ‘Atasnya pahala karena tujuan baik dan pengagungannya atas Rasulullah saw.”

Hal ini sebagaimana terekam dalam  kitab Iqtidlaa’ Shiraathil-Mustaqiim cet. Maktabah ar-Rusyd hal 621.
فتعظيم المولد ، واتخاذه موسمًا ، قد يفعله بعض الناس ، ويكون له فيه أجر عظيم لحسن قصده ، وتعظيمه لرسول الله صلى الله عليه وسلم

“Adapun mengagungkan maulid dan menjadikannya acara rutin, segolongan orang terkadang melakukannya. Dan mereka mendapatkan pahala yang besar karena tujuan baik dan pengagungannya kepada Rasulullah SAW..”

Pendapat Ibnu Taimiyah tentang Maulid


Tersebab tulisan di atas, ada sebagian orang menganggap bahwa Ibnu Taimiyah termasuk orang yang setuju dengan kegiatan maulid nabi. Anggapan ini sebenarnya kurang tepat, mengingat tulisan dalam kitab Iqtidlaa’ Shiraathil Mustaqiim di atas hanya sepotong saja. Namun bila kita melihat kelanjutannya, maka kita akan mendapati pendapat daripada Ibnu Taimiyah tersebut. Berikut kelanjutannya, sebagaimana terekam dalam kitab yang sama dengan halaman 621-622:
فتعظيم المولد، واتخاذه موسمًا، قد يفعله بعض الناس، ويكون له فيه أجر عظيم لحسن قصده، وتعظيمه لرسول الله صلى الله عليه وسلم، كما قدمته لك أنه يحسن من بعض الناس، ما يستقبح من المؤمن المسدد . ولهذا قيل للإمام أحمد عن بعض الأمراء : إنه أنفق على مصحف ألف دينار ، أو نحو ذلك فقال : دعهم ، فهذا أفضل ما أنفقوا فيه الذهب ، أو كما قال . مع أن مذهبه أن زخرفة المصاحف مكروهة . … إنما قصده أن هذا العمل فيه مصلحة ، وفيه أيضًا مفسدة كره لأجلها . فهؤلاء إن لم يفعلوا هذا ، وإلا اعتاضوا بفساد لا صلاح فيه ، مثل أن ينفقها في كتاب من كتب الفجور

“Adapun mengagungkan maulid dan menjadikannya acara rutin, segolongan orang terkadang melakukannya. Dan mereka mendapatkan pahala yang besar karena tujuan baik dan pengagungannya kepada Rasulullah SAW, sebagaimana yang aku telah jelaskan sebelumnya bahwasanya itu baik untuk sebagian orang, tapi tidak baik untuk Mukmin yang lurus.

Oleh karena itu, dikatakan kepada imam Ahmad tentang beberapa Umara: Sesungguhnya umara tersebut telah menginfakkan 1000 dinar untuk sebuah Mushaf. Maka beliau berkata:”biarkan mereka melakukan itu, itulah infak terbaik yang dapat mereka lakukan dengan emas”, Padahal mazhabnya memakruhkan menghias Mushaf-Mushaf.

Sesungguhnya Qasadnya pada amal ini adalah maslahah, dan sekalipun padanya ada mafsadah yang dibenci. Jika mereka tidak melakukan itu, maka mereka akan melakukan keburukan lain yang tidak ada kebaikan padanya, seperti menginfakkannya untuk kitab-kitab tak bermoral”.

Jika kita perhatikan huruf lam yang menyertai lafaz Husni adalah lam ta’lil, jadi pahala itu didapat karena tujuan (Qasad) dan pengagungannya saja, bukan kegiatannya. Kemudian Ibnu Taimiyah juga menegaskan Bahwa itu berlaku untuk orang tertentu, tidak untuk orang Mukmin yang musaddad. Oleh karena itu, Ibnu Taimiyah juga membawakan riwayat tentang orang yang bertanya kepada Imam Ahmad tentang penguasa muslim yang berlebihan dengan menginfakkan harta sebesar 1000 dinar hanya untuk menghias al-Qur’an. Ini jelas perbuatan yang buruk, namun Imam Ahmad menilai qasadnya baik dan itulah amalan terbaik dengan emas yang bisa ia lakukan, karena kalau dilarang, niscaya ia akan mengalihkan kepada amalan yang buruk secara Mutlak.

Jika mau download kitab Iqtidha' Shirathal Mustaqim lebih lengkap, silahkan klik DISINI

Pendapat Ibnu Taimiyah lebih jelas lagi jika kita melihat  kitab beliau yang sama pada halaman 619.
وكذلك ما يحدثه بعض الناس: إما مضاهاة للنصارى في ميلاد عيسى-عليه السلام-،وإما محبة للنبي صلى الله عليه وسلم، والله قد يثيبهم على هذه المحبة والاجتهاد لا على البدع – من اتخاذ مولد النبي صلى الله عليه وسلم عيداً مع اختلاف الناس في مولده ، فإن هذا لم يفعله السلف مع قيام المقتضي له ، وعدم المانع فيه لو كان خيراً ، ولو كان خيراً محضاً أو راجحاً لكان السلف – رضي الله عنهم- أحق به منا ،فإنهم كانوا أشد محبة لرسول الله صلى الله عليه وسلم وتعظيماً له منا ،وهم على الخير أحرص،وإنما كمال محبته وتعظيمه في متابعته،وطاعته واتباع أمره، وإحياء سنته باطناً وظاهراً ، ونشر ما بعث به ، والجهاد على ذلك بالقلب واليد واللسان ، فإن هذه طريقة السابقين الأولين من المهاجرين والأنصار،والذين اتبعوهم بإحسان،وأكثر هؤلاء الذين تجدهم حرَّاصاً على أمثال هذه البدع-مع ما لهم فيها من حُسن القصد والاجتهاد الذي يرجى لهم بهما المثوبة – تجدهم فاترين في أمر الرسول صلى الله عليه وسلم عما أُمروا بالنشاط فيه ، وإنما هم بمنزلة من يزخرف المسجد ولا يصلي فيه ،أو يصلي فيه قليلاً ،وبمنزلة من يتخذ المسابيح والسجادات المزخرفة، وأمثال هذه الزخارف الظاهرة التي لم تُشرع ،ويصحبها من الرياء والكِبْر ،والاشتغال عن المشروع ما يفسد حال صاحبها

“Begitu pula yang diadakan oleh sebagian manusia, baik yang tujuannya untuk menghormati orang-orang Nashrani atas kelahiran ‘Isa ataupun karena mencintai Nabi. Kecintaan dan ijtihad mereka dalam hal ini tentu akan mendapatkan pahala di sisi Allah, tetapi bukan atas bid’ah – seperti menjadikan kelahiran Nabi sebagai hari raya tertentu – padahal manusia telah berbeda pendapat tentang tanggal kelahiran beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Perayaan seperti ini belum pernah dilakukan oleh para salaf, meski ada tuntutan untuk melakukannya dan tidak ada penghalang tertentu bagi mereka untuk melakukannya. Seandainya perayaan itu baik atau membawa faedah, tentu para salaf lebih dulu melakukannya daripada kita karena mereka adalah orang-orang yang jauh lebih cinta kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan lebih mengagungkannya. Mereka lebih tamak kepada kebaikan.

Akan tetapi, perlu diingat bahwa kesempurnaan cinta dan pengagungan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan cara mengikutinya, mentaatinya, menjalankan perintahnya, menghidupkan sunnahnya – baik secara lahir maupun batin – menyebarkan apa yang diwahyukan kepadanya, dan berjihad di dalamnya dengan hati, kekuatan, tangan, dan lisan. Itulah cara yang digunakan oleh para salaf, baik dari golongan Muhajirin, Anshar, maupun orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, dalam mencintai dan mengagungkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun kebanyakan orang yang gigih dalam melakukan kegiatan bid’ah peringatan Maulid Nabi itu – yang mungkin mereka mempunyai tujuan dan ijtihad yang baik untuk mendapatkan pahala – bukanlah orang-orang yang mematuhi perintah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan semangat. Mereka adalah seperti kedudukan orang-orang yang memperindah masjid, tetapi tidak shalat di dalamnya, atau hanya melaksanakan shalat malam di dalamnya dengan minim, atau menjadikan tasbih dan sajadah hanya sebagai hiasan yang tidak disyari’atkan. Tujuannya adalah untuk riya’ dan kesombongan serta sibuk dengan syari’at-syari’at yang dapat merusak keadaan pelakunya”.


Pendapat lebih tegas lagi, diungkapkan Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa jilid 25 hal. 298.
وأما اتخاذ موسم غير المواسم الشرعية كبعض ليالي شهر ربيع الأول ، التي يقال إنها المولد ، أو بعض ليالي رجب ، أو ثامن عشر ذي الحجة ، أو أول جمعة من رجب ، أو ثامن شوال الذي يسميه الجهال عيد الأبرار ، فإنها من البدع التي لم يستحبها السلف ، ولم يفعلوها ، والله سبحانه وتعالى أعلم

“Adapun menjadikan upacara peribadahan selain yang disyari’atkan, seperti sebagian malam Rabi’ul-Awwal yang sering disebut Maulid (Nabi), atau sebagian malam Rajab, atau tanggal 18 Dzulhijjah , atau Jum’at pertama bulan Rajab, atau hari ke-8 bulan Syawwal yang dinamakan oleh orang-orang bodoh dengan ‘Iedul-Abraar; semuanya termasuk bid’ah yang tidak disunnahkan salaf dan tidak mereka kerjakan. Wallaahu subhaanahu wa ta’ala a’lam” [Majmu’ Al-Fataawaa, 25/298].


Itulah pendapat Ibnu Taimiyah tentang maulid nabi. Namun tentunya banyak ulama-ulama lain yang berbeda pendapat dengan beliau pada perkara ini, seperti Ibnu Hajar al-Asqalani dan lainnya. Oleh karenanya, khazanah kritis seperti ini perlu dilestarikan, namun dengan tetap menghargai perbedaan.

Oleh: Ibram Han

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel