Ini Jawaban Pendeta ‘Mengapa Tidak Ada yang Hafal Injil’

Seorang muslimah berdiri dan bertanya kepada seorang pendeta yang menjadi narasumber dalam sebuah debat terbuka secara ilmiah, 

“Adakah orang Kristen yang hafal Injil secara keseluruhan sebagaimana kaum muslimin yang hafal 30 juz al-Qur’an?”

Tentu pertanyaan ini menyontak diri pendeta tersebut. Namun ternyata sang pendeta mempunyai jawaban untuk pertanyaan di atas. Berikut jawaban dari sang pendeta.

“Di dunia ini tidak mungkin ada orang yang hafal Injil di luar kepala. Sejenius apa pun orang itu, mustahil baginya hafal Injil di luar kepala. Karena itu merupakan buku yang sangat tebal, jadi sulit sekali untuk dihapalkan. Hal ini tentu berbeda dengan Al Qur’an. Al Qur’an bentuknya sangat tipis, makanya sangat mudah dihapal. Bahkan oleh anak-anak sekalipun,” jawab sang pendeta yang bertitel doktor bidang teologi tersebut.

Mendengarkan jawaban seperti itu, H. Insan LS Mokoginta yang kebetulan juga mengikuti acara tersebut langsung mengajukan pertanyaan balik.

“Sebelumnya Maaf pak Pendeta, tadi bapak kata, Al Qur an adalah buku yang sangat tipis, makanya gampang dihapalkan. Namun, setipis-tipisnya Al Qur’an itu ada sekitar 500 sampai dengan 600 halaman, itu cukup banyak juga lho!! Realitanya, di dunia ini ada jutaan orang yang hapal Al Qur’an secara sempurna di luar kepala. Bahkan anak kecil pun banyak juga yang hapal di luar kepala, walaupun artinya belum dipahami. Sekarang saya mau bertanya, Alkitab itu terdiri dari 66 kitab bukan? Jika pak Pendeta hapal 1 ‘surat’ saja di luar kepala (1/66 saja), semua yang hadir di sini jadi saksi, saya akan kembali masuk agama Kristen lagi!!”

Mendengar pertanyaan dan tantangan ini, suasana forum menjadi ramai. Kalangan muslim yang ada di forum tersebut khawatir pendeta tersebut hafal salah satu surat dalam Injil. Hal ini wajar mengingat konskwensi dari tantangan itu sangat berat, yaitu pak Mokoginta harus menjadi Kristen lagi.

Namun ternyata, ketegangan tidak hanya ada pada kaum muslimin yang hadir dalam perdebatan tersebut. Ketegangan yang serupa bahkan lebih, tampak juga pada raut wajah sang pendeta dan para pendukungnya. Ada beberapa pendeta senior yang juga ikut hadir saat itu, mereka semua terdiam dengan wajah memerah.

Ternyata.. tak ada satupun dari para pendeta yang hafal Injil walau hanya 1 ‘surat’.

Karena semua pendeta terdiam tak ada yang berani menjawab, maka pak Mokoginta pun kembali memberikan tantangannya,

“Maaf pak Pendeta, usia Anda ada yang sekitar 40, 50 dan 60 tahun bukan? Jika ada di antara pak Pendeta yang hafal satu lembar saja bolak-balik ayat Injil tanpa keliru titik dan komanya, saat ini semua yang hadir disini menjadi saksinya, Saya kembali menjadi Kristen lagi!! Silahkan pak!”

Suasana menjadi heboh dan lebih tegang dari sebelumnya. Para sahabat pak Mokoginta yang ada di forum tersebut sempat khawatir karena beliau berani mempertaruhkan imannya demi hafalan sekecil itu.

Allahu Akbar….. Ternyata benar, wajah-wajah pendeta dan kaum kristen yang ada di forum tersebut tampak lesu. Tak ada satu pun yang berani menjawab tantangan pak Mokoginta. Bahkan ketika beliau menawarkan tantangan itu pada seluruh hadirin, bukan hanya pendeta yang berada di depan, tak ada yang berkutik sama sekali untuk menjawab tantangannya.

Karena tak ada yang mampu menjawab dan memenuhi tantangannya, maka pak Mokoginta pun berkata,

“Mengapa Al Qur’an mudah dihafal? Karena ia adalah Kalamullah, mukjizat. Mengapa tak ada yang hafal Injil? Karena ia bukan mukjizat (baca: sudah dirubah, red).”

Pak Mokoginta pun menjelaskan bahwa cetakan tahun berapapun dan di negara manapun, isi Al Qur’an pasti sama. Ketika satu negara mengadakan musabaqah tilawatil Qur’an dan didengar muslim dari negara lain, niscaya bisa diikuti dan dinilai bacaan itu benar atau salah.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel