Inilah Keyakinan Syi’ah yang Dibantah Sendiri oleh Imam Mereka

keyakinan syiah yang dibantah sendiri oleh imamnya
Dijelaskan dalam sejarah, pada awalnya Syi’ah dan Khawarij adalah merupakan orang-orang yang berada pada barisan Ali bin Abi Thalib ra.. Namun tersebab ghuluw (berlebih-lebihan) dan keliru, maka keduanya pun menjadi bengkok.

Syi’ah bengkok tersebab sikap ghuluwnya atas Ali bin Abi Thalib ra.. Oleh karenanya, mereka pun tak segan-segan membuat-buat hadis untuk memuliakan imam Ali ra. guna mengalahkan lawan-lawan politiknya. Sebagaimana disebutkan oleh al-Khatib dalam al-Sunnah qabla al-Tadwin yang mengutip dari kitab Syarh Nahj al-Balaghah baha al-Hadid berkata,

“Pertama kali, kedustaan dalam hadis tentang keutamaan-keutamaan dilakukan oleh Syi’ah (pengikut) Ali. Sejak pertama, mereka memalsukan hadis yang berbeda-beda mengenai diri Ali. Pemalsuan itu mereka lakukan karena dorongan oleh rasa permusuhan terhadap lawan-lawan politik mereka.”

Karena berpijak pada sikap ghuluw dan dusta, maka keyakinan-keyakinan Syi’ah pun berdiri pada pondasi yang sangat rapuh. Bahkan, keyakinan-keyakinan mereka dibantah sendiri oleh imam-imam mereka yang pada hakikatnya hanya klaim semata. Perlu diketahui bahwa syi’ah, sebut saja syi’ah imamiyah memiliki 12 imam yang kesemuanya dari imam Ali dan keturunannya. Namun imam-imam itu justru memiliki keyakinan yang berbeda dengan yang dimiliki oleh syi’ah itu sendiri. Maka berikut adalah keyakinan syi’ah yang dibantah sendiri oleh imam mereka.

Kepemimpinan Imam Ali setelah Rasulullah saw. dengan Nash


Orang-orang syi’ah meyakini bahwa Rasulullah saw. telah menunjuk imam Ali sebagai pemimpin sepeninggal beliau. Mereka meyakini penunjukan itu dalam peristiwa Ghadir Khum dan menguatkannya dengan Tragedi Kamis.

(Lihat: Peristiwa Ghadir Khum; Lengkap dan Mengenal Tragedi Kamis)

Keyakinan di atas amatlah rapuh. Terlebih keyakinan itu pun dibantah sendiri oleh imam Ali. Dalam sejarah, imam Ali berbaiat kepada Abu Bakar, Umar, dan Usman. Beliau pun bahu membahu dalam pemerintahan mereka dan menjadi penasehat dalam pemerintahan. Bahkan imam Ali pun menjadi salah satu kandidat setelah khalifah Umar, walaupun akhirnya kalah bersaing dengan Usman. Begitu juga, saat menjadi khalifah sepeninggal Usman, imam Ali tak pernah mengatakan bahwa dirinya adalah khalifah yang asli sepeninggal Rasulullah saw..

Abu Bakar dan Umar serta Banyak Sahabat Rasulullah adalah Zalim


Karena keyakinan pertama di atas, orang-orang Syi’ah pun meyakini semua sahabat Rasulullah saw. adalah orang zalim bahkan murtad karena mengkhianati wasiat Rasulullah saw.. Terlebih lagi, terhadap Abu Bakar dan Umar, mereka dianggap sebagai orang yang mencuri kepemimpinan. Oleh karenanya, mereka tak segan-segan mencaci maki semua sahabat Rasulullah saw. dan mengkafirkannya, kecuali beberapa sahabat semisal Salman, Bilal dan Miqdad. Hanya syi’ah Zaidiyah saja yang tidak berlaku berlebihan terhadap sahabat Rasulullah.

Keyakinan syi’ah di atas pun dibantah oleh imam Ali dan keturunannya. Keyakinan ini paling mudah dibantah. Mengingat, tak pernah kita jumpai imam Ali dan keturunannya mencela sahabat Rasulullah saw.. Bahkan yang ada justru mereka memuji sahabat-sahabat Rasulullah saw. dan saling menimba ilmu serta menyebarkan Islam ke penjuru dunia bersama-sama.

Terhadap Abu Bakar dan Umar, kecintaan imam Ali dan keturunannya tak bisa dibantah lagi. Bahkan ketika Ja’far Shadiq, cicit dari Ali (imam keenam dari syi’ah Imamiyah) saat ditanya tentang Abu Bakar dan Umar, beliau justru menjawab, “Sesungguhnya engkau telah menanyaiku tentang kedua orang yang telah memakan buah surga.” Bahkan Amr bin Qais berkata aku mendengar Ja’far berkata, “Allah berlepas diri dari setiap orang yang berlepas diri dari Abu Bakar dan Umar.” (lihat az-Zahabi dalam Siyar A’lam an-Nubala’ jilid 6, hal 259-260)

Aisyah dan Hafsah adalah Orang Zalim


Pada poin kedua, orang-orang syi’ah sangat membenci Abu Bakar dan Umar. Kebencian itupun merembet pula kepada puteri-puterinya, Aisyah dan Hafsah. Seakan tak mengindahkan kedudukan mereka sebagai ummahatul mukminin (istri Rasulullah saw.), orang syi’ah tak segan-segan menuduh Aisyah sebagai pezina dan Hafsah sebagai pembangkang.

Mereka menguatkan keyakinannya dengan seringnya mereka berdua merepotkan Rasulullah saw. dalam berumahtangga dan bahkan mengamini tuduhan zina atas Aisyah, serta memberontaknya Aisyah saat kepemimpinan Ali bin Abi Thalib.

Keyakinin syi’ah seperti ini pun mudah dipatahkan. Oleh karenanya, perhatikan poin-poin berikut:

  1. Tuduhan Aisyah ra. sebagai pezina, telah dibatalkan langsung oleh Allah swt. sendiri dengan turunnya surah an-Nur. (LIHAT: Saat Surah An-Nur menjadi Perselisihan di Yaman)
  2. Sikap Aisyah dan Hafsah yang kerap ‘merepotkan’ Rasulullah saw. adalah sebuah pembelajaran/tarbiyah bagi umatnya. Dari peristiwa itu, justru kita bisa meniru Rasulullah saw. bagaimana mengarungi rumah tangga yang tentunya akan ada ‘gelombang’ antara suami dan istri. Rasulullah saw. memberi teladan kepada para suami dalam menyikapi istrinya cemburu, saat istrinya meminta harta, saat istrinya protes, dan lain sebagainya.
  3. Kemuliaan Aisyah dan Hafsah tak terbantahkan lagi, terbukti saat Rasulullah hidup hingga meninggal, beliau pun menyayangi mereka berdua. Demikian pula, Ali dan keturunannya serta seluruh umat Islam memanggilnya sebagai ummahatul mukminin (ibunya orang beriman).
  4. Perang Jamal, perang antara Aisyah dan Ali adalah nyata. Namun demikian, silahkan cari riwayat bahwa Ali dan keturunannya mencela atau mencederai kehormatan istri Rasulullah saw. tersebut. Sungguh tidak ada dan tidak akan ditemukan. Bahkan yang terjadi adalah saat Aisyah kalah, Ali pun tetap memuliakan beliau.


(LIHAT: Inilah Nama-Nama yang Disukai Imam Ali dan Keturunannya)

Al-Qur’an telah Dirubah


Keyakinan Syi’ah yang batil lainnya adalah ketidakotentikan al-Qur’an sekarang. Mereka meyakini bahwa al-Qur’an telah terjadi perubahan, baik ditambah ataupun dikurangi oleh para sahabat, terlebih pada masa Usman bin Affan.

Keyakinan ini pun mudah dipatahkan. Terlebih, masa kodifikasi al-Qur’an terjadi saat imam Ali masih hidup. Bahkan beliau pun salah satu orang yang menyetujui kebijakan Usman saat kodivikasi tersebut.

Nikah Mut’ah Halal


Salah satu pasaran syi’ah adalah nikah mut’ah, sebuah pernikahan yang dibatasi oleh waktu. Dalam keyakinan syi’ah, seseorang diperbolehkan menikah sejam, dua jam, tiga jam, atau waktu tertentu sesuai dengan perjanjian. Mereka menguatkan pendapatnya dengan perbedaan pendapat tentang kapan waktu diharamkannya.

Lagi-lagi, keyakinan ini pun ditolak sendiri oleh imam Ali bin Abi Thalib. Imam Ali banyak meriwayatkan hadis tentang haramnya nikah mut'ah. Imam Ali ra. pun menjelaskan bahwa nikah mut’ah telah diharamkan yang sebelumnya dihalalkan. Artinya, dalam sejarah memang nikah ini pernah dihalalkan, namun pada masa selanjutnya nikah ini dilarang.

Demikian keyakinan-keyakinan syi’ah yang dibantah sendiri oleh para imamnya. Hal itu karena pada hakekatnya, imam-imam mereka berlepas diri dari kedustaan-kedustaan yang mereka buat. Wallahu a’lam

Oleh: Ibram Han

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel