Jawaban Utsaimin tentang Allah Duduk di Atas ‘Arsy

jawaban utsaimin tentang allah duduk di atas arsy
Salah satu hal yang menyita perhatian ahlul ilmi adalah pembahasan tentang ayat mutasyabihat, khususnya makna ‘istiwa’’ pada ayat ‘arrahmaanu ‘alal ‘arsyistawaa.’ Perkara ini pun kadang menjadi fitnah di tengah-tengah umat hingga menimbulkan perselisihan dan putusnya ukhuwah di antara umat Islam.

Perselisihan yang paling menonjol adalah antara kaum nahdhiyin dan kaum puritan, pelanjut gerakan Muhammad bin Abdul Wahab. Jika kelompok pertama menta’wilkan maknanya sedangkan yang kedua meng-isbat-kan maknanya tanpa ta’wil, ta’thil, dan takyif. Perselisihan itu semakin liar saat orang awam ikut-ikut membahasnya sehingga tudingan berbuat tahrif dan tajsim pun terlontar satu dengan yang lain.

Maka pembahasan ini diharapkan bisa mencairkan perselisihan itu hingga tidak menimbulkan kesalahpahaman dan tentunya merekatkan kembali tali silaturahim antara keduanya.

Sebelum menuju ke pembahasan, perlu diketahui bahwa ulama salaf mentafwidhkan maknanya, sedangkan ulama khalaf menta’wilkan maknanya. Imam Malik yang mewakili ulama salaf saat disinggung tentang ayat di atas, beliau menjawab, “al-istiwa’ ma’lum wal kaif majhul wal iman bihi wajib was suál anhu bidáh” (istiwa’ itu telah jelas/diketahui [maknanya, red] dan bagaimana [keadaan-Nya] itu tidak diketahui, mengimaninya wajib serta bertanya tentang itu adalah bidáh). Adapun ulama khalaf, mereka menta’wilkannya dengan arti istawla, yang berarti Allah menguasai ‘arsy-Nya.


Makna Istiwa'


Selanjutnya, perlu diketahui bahwa kata istiwa’ dalam bahasa Arab memiliki makna yang banyak hingga belasan. Namun paling tidak, makna tersebut bisa dibagi menjadi empat bagian:

Pertama, jika kata Istiwa’ tersebut mujarrad (tidak disandarkan kepada huruf apapun setelahnya), maka salah satu arti istiwa’ disini berarti: sempurna, lengkap. Allah berfirman:
ولما بلغ أشده فاستوى

“Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya.” (Q.S. Al-Qhasas: 14)

Kedua, jika kata istiwa’ disandarkan dengan huruf (إلى), maka artinya adalah إرتفع وعلا (naik dan tinggi). Sebagian ahli ilmu mengartikan dengan قصد   (menuju) seperti yang disebutkan oleh Ibnu katsir ketika mentafsirkan al-Baqarah ayat 29. Namun makna yang pertama lebih banyak dipilih sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas. Allah berfirman:
ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ

“Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap” (Q.S. Fushilat: 11)
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit.” (Q.S. Al-Baqarah: 29)
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit” (QS. Al-Baqarah: 29)

Ketiga, lafal istiwa’ yang terikat dengan huruh (على), maka lafal ini pun memiliki varean makna seperti naik, tinggi, menetap. Allah berfirman:
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Yaitu Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy” (Q.S. Thaha: 5)
لِتَسْتَوُوا عَلَى ظُهُورِهِ

“Supaya kamu duduk di atas punggungnya” (QS. Az-Zukhruf: 13)
فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ

dan tegak lurus di atas pokoknya (QS. Al-Fath: 29)
وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ

dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi (QS. Hud: 44)

Keempat, lafal istiwa’ yang terhubung dengan wawu maiyah, maka berarti sama atau rata. Dalam kitab Mukhtashar Jiddan, disebutkan contoh Mauf’ul maah
استوى الماء و الخشبة

“Ketinggian air dan kayu itu sudah sama atau rata.”

Fatwa Syeikh Utsaimin tentang Istiwa'


Adalah Utsaimin, ulama Saudi yang menjadi rujukan dari sebuah gerakan puritan dan termasuk keturunan Muhammad bin Abdul Wahab suatu ketika pernah ditanya tentang makna istiwa’ yang berarti duduk (julus atau qu’ud) dalam liqa’ bab al-maftuh dengan nomor pertanyaan 450. Maka, perhatikan dengan cermat jawaban yang diberikan oleh Utsaimin berikut.
سئل العلامة ابن عثيمين رحمه الله في لقاء الباب المفتوح
فضيلة الشيخ : عثمان الدارمي في رده على بشر المريسي أورد أن الاستواء يأتي بمعنى الجلوس ، مارأي فضيلتكم ؟
الجواب : الاستواء على الشيء في اللغة العربية يأتي بمعنى الاستقرار والجلوس قال تعالى (لتستووا على ظهوره )  الزخرف: 13
والانسان على ظهر الدابة جالس أم واقف ؟
هو جالس، لكن هل يصح أن نثبته في استواء الله على العرش ؟ هذا محل نظر
فإن ثبت عن السلف أنهم فسروا ذلك بالجلوس فهم أعلم منا بهذا والا ففيه نظر
والا نقول : الكيف ـ أعني ـ الاستواء مجهول، ومن جملة الجهل ألاّ ندري أهو جالس أم غير جالس، ولكن نقول : معنى الاستواء : العلو ، هذا أمر لاشك فيه

Dalam sebuah acara pertemuan terbuka, al-Allamah Ibnu Utsaimin pernah ditanya:

Fadhilatus Syaikh, Utsman al-Darimi ketika membantah Bisyr al-Muraisy mengatakan bahwa salah satu makna istiwa’ adalah duduk, bagaimana pendapatmu?

Jawab:


Istiwa’ di atas sesuatu dalam bahasa Arab bermakna menetap dan duduk. Allah berfirman
لِتَسْتَوُوا عَلَى ظُهُورِهِ

“Supaya kamu duduk di atas punggungnya” (QS. Az-Zukhruf: 13)

Manusia di atas punggung hewan tunggangan, duduk atau berdiri?

Dia (manusia) itu duduk. Tetapi apakah boleh kita menetapkan makna tersebut pada istiwa’ Allah di atas Arsy? Inilah objek  penelitiannya.  Namun demikian kita katakan bahwa kaif (bagaimana) istiwa’-Nya Allah itu adalah majhul. Termasuk dalam konsep majhul tersebut adalah kita tidak tahu apakah Dia duduk atau tidak duduk. Tapi kita katakan makna istiwa’ adalah “tinggi”. Inilah yang tidak diragukan.

by: Ibram Han

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel