Kisah Pohon Natal di Depok

Pada hari Jum’at, (18/12) terjadi ketegangan antara aktivis Islam dan aktivis Kristen di Polsek Depok. Mengutip laman sharia.co.id (19/12), kedua kelompok itu pun akhirnya dikumpulkan dalam rapat yang dipimpin Kapolres Depok Kombes Pol Dwiyono itu, dihadiri puluhan aktivis Kristen dan aktivis Islam Depok. Aktivis-aktivis Islam diwakili oleh Front Pembela Islam (FPI) Depok.

Kenapa Kapolres harus mengundang para aktivis agama-agama itu di kantornya? Ternyata kejadiannya bermula sekitar seminggu lalu.

Kronologi Peristiwa

Saat itu para aktivis Kristen Depok, karena ingin meramaikan Natal mereka meletakkan Pohon Natal yang besar di tempat keramaian. Di tugu persimpangan jalan Depok I dan Depok II.

Selang beberapa hari, aktifis Islam yang dimotori FPI Depok protes ke Polres Depok karena melihat Pohon Natal diletakkan di jalan yang ramai. Hal ini karena Pohon Natal itu diletakkan di tempat yang strategis di daerah yang 90% penduduknya umat Islam. FPI tidak keberatan adanya Pohon Natal itu, tapi mesti diletakkan di lingkungan gereja, bukan di tempat strategis dimana umat Islam banyak lalu lalang di sana.

Melihat banyaknya kalangan Islam yang protes, akhirnya anggota Polres Depok beramai-ramai memindahkan Pohon Natal itu ke lingkungan gereja yang terdekat.

Keesokan harinya, aktivis Kristen tidak terima. Mereka protes ke Polres Depok mengapa Pohon Natal itu dipindahkan.

Melihat ketegangan antar umat beragama tentang Pohon Natal, akhirnya Kapolres Depok kemarin siang berinisiatif mengundang para aktivis gereja dan aktivis Islam (FPI) beserta tokoh-tokoh Depok untuk membicarakan kasus ini. Setelah terjadi diskusi yang alot di kantor Polres, akhirnya pihak gereja menyadari kesalahannya. Dan mereka menerima Pohon Natal itu diletakkan di depan Gereja. “Disepakati tadi malam para tokoh agama menjaga kerukunan dan toleransi di Depok,” terang Haji Lupianto.
Sumber gambar: sharia.co.id dan tempo.co

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel