Sesat; Orang yang Mengajarkan Ilmu Hakikat tanpa Mengindahkan Syariat

hukum mengajarkan ilmu hakikat tanpa syariat
Soal: Bagaimana hukum orang yang mengajarkan ilmu hakikat sedangkan ia sendiri tidak mengerjakan syariat agama?

Jawab: Hukumnya HARAM dan menjadi SESAT.

Keterangan:

Kifayah al-Atqiya’

فى كفاية الأتقياء على منظومة الأذكياء فى شرح قوله:
فكذا الطريقة والحقيقة يا أخى # من غير فعل شريعة لن تحصلا
ونصه: فالمؤمن وإن علت درجته وارتفعت منزلته وصار من جملة الأولياء لا تسقط عن العبادات المفروضة فى القرآن والسنة, ومن زعم أن من صار وليا ووصل إلى الحقيقة سقطت عنه الشريعة فهو ضال مضل ملحد ولم تسقط العبادة عن الأنبياء فضلا عن الأولياء, ولقد صح أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يصلى حتى تتورم قدماه, فقيل له مرة ألم يغفر الله ما تقدم من ذنبك وما تأخر فقال: أفلا اكون عبدا شكورا.

Kifayah al-Atqiya’ a’laa Manzhuumah al-Adzkiya’:

Thariqah dan hakikat tanpa pelaksanaan syariat tidak akan berhasil.

Penjelasannya sebagai berikut: Orang mukmin meskipun derajat dan kedudukanya tinggi serta termasuk kelompok wali, tidaklah gugur kewajibannya dalam melaksanakan ibadah yang diwajibkan di dalam al-Qur’an dan hadis. Barangsiapa mengatakan “Orang yang menjadi wali dan telah sampai kepada hakikat, bebaslah ia dari syariat”, maka orang tersebut sesat, menyesatkan, dan kafir. Karena para nabi saja tidak bebas dari kewajiban ibadah, apalagi para wali. Tersebut di dalam hadis shahih bahwa Rasulullah saw. senantiasa melaksanakan salat sehingga kedua telapak kakinya bengkak. Kemudian, pernah ditanyakan kepada beliau ‘Bukankah Allah swt. telah mengampuni  dosa Anda yang lalu dan yang akan datang?’, maka beliau menjawab ‘Apakah aku tidak boleh menjadi seorang hamba yang sangat bersyukur’.

Sumber: al-Fuyudhat al-Rabbaniyyah (Permasalahan Thariqah; Hasil Kesepakatan Muktamar dan Musyawarah Besar Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah Nahdlatul Ulama), hal. 15-16

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel