BENAR, Syi'ah itu NU Plus Imamah

syi'ah itu nu plus imamah
Mungkin banyak atau pernah kita mendengar ungkapan popular Gusdur dulu saat masih hidup ketika beliau menghendaki agar masyarakat sunni dan syi’ah tidak terjadi pertikaian. Ungkapan itu adalah ‘Syi’ah itu NU plus imamah’ atau ‘NU itu syi’ah minus imamah.’

Maka tak jarang, masyarakat tidak memahami hakekat perbedaan itu dengan baik. Bahkan mungkin menjadi salah paham dalam memahaminya. Sebelum memahami ungkapan itu, perhatikan dua ungkapan berikut.

Pakaian koko itu pakaian kemeja minus kerah (baca: tak berkerah).
Manusia itu hewan plus akal (baca: yang berakal).

Artinya, perbedaan pakaian koko dan kemeja hanya sedikit, yaitu pada kerahnya saja. Adapun perbedaan antara manusia dan hewan sangatlah banyak, walau di dalam ungkapannya hanya akal semata. Namun konskwensi ada tidaknya akal berimbas pada hal-hal yang lainnnya.

Oleh karenanya untuk mengetahui besar kecilnya perbedaan adalah terletak urgen atau tidaknya perbedaan itu. Maka menarik apa yang diungkapkan tokoh muda NU saat debat dengan tokoh syi’ah. Tokoh muda dan juga tokoh yang pernah digadang-gadang menjadi calon kandidat ketua PBNU itu berseloroh,

“Benar yang diungkapkan Gusdur bahwa syi’ah itu NU plus imamah, namun:
  • Gara-gara imamah, rukun iman berbeda karena imamah menjadi bagian dari rukun iman.
  • Gara-gara imamah, rukun Islam menjadi beda karena masuk dalam rukun Islam yang namanya wilayah.
  • Gara-gara imamah, syahadatnya juga ada tambahan.
  • Gara-gara imamah, adzannya beda.
  • Gara-gara imamah, di kitab-kitab syi’ah ada riwayat yang menganggap tidak percaya al-Qur’an ini asli.
  • Gara-gara imamah, orang-orang syi’ah beberapa abad lalu … menganggap putri Nabi hanya Fatimah, sedangkan Ruqayyah, Zainab, Kultsum itu anak tiri.

Untuk mengetahui lebih jelas bagaimana ungkapan tokoh NU ini, silahkan lihat secara langsung dalam video DISINI.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel