Ironis, Umat Islam Justru Saling Tuduh Pasca Kasus Sarinah

Hidup pada masa teknologi, sungguh menjadikan arus informasi sangat cepat keluar masuk. Oleh karenanya, kejadian Sarinah yang terjadi di Jakarta, maka selang beberapa menit peristiwa ini pun merambah ke seluruh pelosok negeri dengan cepatnya, bahkan dunia. Apalagi sosial media yang hampir semua masyarakat memilikinya, menjadikan arus informasi itu pun tak bisa dibendung.

Kejadian Sarinah tentu kejadian yang memilukan. Saat aparat dan pemerintah berusaha menjaga keamanan dan ketenangan masyarakat, maka munculnya seseorang yang hendak mengusik ketenangan tentu harus kita sikapi dengan tepat dan tegas. Sikap tepat dan tegas ini pun harus dibangun oleh pemilik media agar masyarakat bisa mengambil hikmah.

Sungguh hal yang ‘melegakan’ yaitu saat masyarakat dalam suasana ketakutan, muncul optimisme baru yang dibangun netizen dengan suaranya Jakarta kuat atau lainnya menjadikan suasana menjadi reda dan kembali muncul ketenangan.

Namun ada yang ironis, terlebih di dalam masyarakat muslim sendiri di Indonesia. Ada sebagian mereka justru tidak menumbuhkan ketenangan, namun menciptakan kegaduhan dengan saling tuduh ‘kelompok ini salah’ ‘kelompok itu salah’ ‘pelakunya berjidat hitam’ ‘pelakunya berjenggot’ ‘pelakunya ini itu’ dan lain sebagainya. Tuduhan dan lemparan saling ejek pun berjejal di jejaring sosial dengan membuat meme-meme yang tak 'bermutu'.

Ini ironis  karena ini terjadi di negeri berpenduduk muslim terbesar dunia.

Mengapa ironis? Hal itu karena bukannya mereka menumbuhkan sikap optimisme atau menyelesaikan masalah, tetapi justru saling cibir dan saling tuduh pada sesamanya, yaitu sesama umat Islam sendiri. Bahkan tuduhan itu semakin liar kepada aksesoris-aksesoris yang ‘identik’ dengan Islam, seperti jenggot, dan lainnya.

Ini ironis karena pada saat masyarakat Islam yang minoritas di dunia Barat dan lainnya hendak membuang labelitas ‘teroris’ dari tubuh Islam dan membuang suara miring pada jenggot, jidat hitam, cadar, surban, dan lainnya; ternyata suara ini justru lantang di negeri berpenduduk mayoritas Islam terbesar dunia, negeri Indonesia tercinta.

Silahkan lihat video-video masyarakat Islam Eropa yang dibagikan di jejaring sosial!
Ada yang membuat video, seorang lelaki berjenggot yang seorang ibu-ibu ketakutan di sampingnya karena ada polisi yang mengejar di belakangnya. Namun ternyata polisi itu tidak menangkap lelaki berjenggot, tetapi justru lelaki lain. Ada pula sebuah video wanita bercadar yang naik lift bersama seorang 'wartawan,' namun apa yang terjadi? Saat wartawan ketakutan karena suatu hal, wanita itu justru membantunya. Banyak lagi video-video kreatifitas umat Islam Eropa yang dibuat untuk membuang stigma negatif tersebut.
Akhirnya, semoga aparat bisa menyelesaikan kejadian Sarinah dengan tepat dan tuntas. Demikian pula, semoga kita semua bisa menumbuhkan ketenangan dan kesejukan di tengah-tenah masyarakat dan berharap tidak ada lagi stigma negatif atas Islam pasca kejadian ini. Sungguh, Islam itu jauh dari perilaku tersebut. Maka tepat status Divisi Humas Polri saat terjadi kasus Sarinah, “Terorism has no religion."
by: Ibram Han

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel