Menyikapi Eksekusi Saudi atas Tokoh Syi'ah Nimr

menyikapi eksekusi saudi atas tokoh syiah nimr
"Kuliah virtual" singkat kali ini tentang eksekusi massal hukuman mati terhadap 47 tersangka gerakan terorisme, separatisme, sektarianisme dan ekstremisme. Berita tentang ini sekarang lagi 'heboh'.

Dari 47 tersangka tersebut, dua nama diantaranya sangat pupuler, yakni Shaikh Nimr Baqir al-Nimr dan Faris Al-Shuwail. Nimr Baqir adalah tokoh sayap radikal Syiah, sedangkan Al-Shuwail dikenal sebagai gembong Al-Qaeda di Saudi.

Sebagian besar mereka dihukum karena kasus 'terorisme domestik' yang menimpa Arab Saudi sejak beberapa tahun silam. Hukuman terhadap kelompok teroris ini semakin gencar sejak Kementerian Dalam Negeri dipimpin oleh Putra Mahkota, Muhammad bin Nayef. Ia kerap 'digadang-gadangkan' oleh Amerika dan warga Saudi sebagai pemimpin masa depan.

Terkait dengan hukuman mati tersebut terdapat sejumlah hal penting untuk dicatat di sini. Pertama, Kerajaan Saudi tidak pernah berkompromi terhadap aneka gerakan dan aksi-aksi terorisme dan ekstremisme. Siapapun pelakunya, baik itu kelompok Wahabi, Syiah, Sunni, Ikhwan, Al-Qaedah, ISIS, dan lain sebagainya. Menurut pihak kerajaan hal itu akan sangat mengganggu dan mengancam stabilitas sosial-politik, ekonomi, dan keamanan negara serta masyarakat.

Sejauh ini sudah banyak para tokoh Wahabi/Ikhwan radikal yang dipenjara dan dieksekusi. Mereka dikaitkan karena terlibat dengan berbagai kasus kekerasan domestik seperti yang menimpa Juhayman al-Utaibi, sosok yang pernah "mengkudeta" Makkah.

Kedua, eksekusi terhadap Shaikh Nimr al-Nimr bukan karena kapasitasnya sebagai tokoh agama Syiah. Ia dieksekusi karena keterlibatannya dalam berbagai upaya makar berupa penebaran paham separatisme dan sektarianisme terhadap pemerintah Saudi.

Sejak Revolusi Iran 1979 serta diperkuat sejak tumbangnya rezim Sunni Saddam Hussein di Irak, para tokoh Syiah Saudi menjadi terbelah. Mereka menjadi terkutub menjadi pihak yang pro-Iran dan pro-Saudi.
Syaikh Nimr adalah salah satu klerik yang dianggap sebagai 'perpanjangan tangan politik Iran'. Ia dituding sebagai sosok yang paling gencar dalam melakukan aksi-aksi resistensi terhadap Dinasti Saud.

Apakah semua tokoh-tokoh Syiah Saudi itu adalah kelompok yang pro Nimr al-Nimr? Jelas tidak! Ada banyak tokoh Syiah Saudi seperti Shaikh Hassan Al-Saffar, Shaikh Jafar Al Shayeb, Sayyid Hasyim al-Salman, yang justru menentang tindakan-tindakan Syaikh Nimr. Syaikh Nimr dianggap tidak "strategis" dan merugikan warga Syiah Saudi.

Banyak para tokoh Syiah Saudi yang lebih memilih "jalan damai" dan bergabung dengan "Dialog Nasional" yang diprakarsai oleh mendiang Raja Abdullah. Sang raja selama ini dikenal sangat moderat dan toleran terhadap kaum Syiah.

Akhirul kalam, teman-teman di Indonesia sepertinya tidak usah sampai overdosis dalam menanggapi kasus eksekusi terhadap Nimr al-Nimr ini. Saya lihat 'kubu liberal' mengkritik keras eksekusi terhadap tokoh ini sambil mewacanakan tentang diskriminasi HAM Syiah tanpa melihat posisi dan aksi-aksi kubu Syiah yg moderat dan pro-Saudi.

Sementara kubu radikal melihat fenomena ini sebagai momentum untuk "mengganyang" Syiah di Indonesia tanpa melihat alasan-alasan eksekusi dan peta geo-politik di Saudi dan Timur Tengah.

Mereka tidak melihat bahwa eksekusi itu bukan lantaran Nimr al-Nimr itu pengikut Syiah yang sesat tapi karena keterlibatannya sebagai 'spion' dan 'pion' Iran di Saudi. Kedua kubu ini sama-sama melakukan 'korupsi fakta' untuk kepentingannya masing-masing.

Jadi teman-teman, sekali lagi saya tegaskan, masyarakat Indonesia jangan sampai terbawa arus konflik dan kekerasan geopolitik di Arab dan Timur Tengah. Indonesia adalah Indonesia yang memiliki sejarah sendiri dan kebudayaan sendiri yang harus dijaga bersama-sama. Jangan sampai kita menjadi porak-poranda karena mengikuti dan membeo perseteruan negara-negara lain yang tidak memiliki sangkut-paut dengan kepentingan bangsa, negara dan Tanah Air tercinta.

Oleh Sumanto Al Qurthuby, aktivis NU dalam republika.co.id, 3/12/15 dengan judul 'Menimbang Hukuman Mati Nimr Baqir, Perlukan Mengganyang Syi'ah di Indonesia?

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel