Penjelasan Grand Syaikh Al-Azhar tentang Syi'ah dan Ahmadiyah

Grand Syaikh al-Azhar Prof Tayyeb selain mengunjungi berbagai tempat di Indonesia, juga melakukan lawatan khusus ke kantor MUI. Di kantor MUI, grand syaikh melakun ceramah dan beliau bahkan mengapresiasi MUI atas kinerjanya yang mampu menyatukan berbagai ormas. Setelah ceramah beberapa saat, Prof Tayyeb kemudian mengadakan dialog dengan peserta. Dalam dialog tersebut ada pertanyaan dari Dirjen Bimas Islam Prof. Dr. Machasin dan Ketua Fatwa MUI Prof. Dr. Huzaemah Tahido Yanggo tentang Syiah dan Ahmadiyah. Berikut jawaban dari Prof Tayyeb sebagaiaman dilansir sharia.or.id:

“Apa itu Islam sudah jelas digariskan oleh Rasulullah: syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji sebagaimana dalam Hadisnya yang masyhur. Jika seseorang melaksanakannya, maka ia adalah seorang muslim.

Berbeda misalnya jika ada yang meyakini bahwa Muhammad bukanlah Nabi dan Rasul terakhir, dan masih terbuka peluang munculnya nabi-nabi baru, maka jelas kita SEPAKAT MENOLAKnya. Karena, kenabian dan kerasulan Muhammad sebagai yang terakhir merupakan sesuatu yang sudah diketahui kebenarannya dalam agama.

Termasuk, jika mengatakan bahwa Allah keliru dalam menurunkan risalah-Nya, yaitu seharusnya bukan kepada Muhammad tetapi kepada yang lain, siapapun dia, maka jelas-jelas hal seperti ini BERTENTANGAN dengan ajaran prinsip dalam agama: sesuatu yang sudah diketahui kebenarannya dalam agama.

Jika ada yang mencela dan mencaci-maki sahabat Rasul, seperti Abu Bakar, Umar, Aisyah dsb, maka itu adalah sebuah KEBODOHAN dan BUKAN ajaran yg benar. Apalagi jika ada yg meyakini bahwa Allah keliru dalam menurunkan risalahnya kpd Muhammad, mestinya kepada Ali bin Abi Thalib, itu jelas sebuah PENGINGKARAN yang nyata.

Termasuk syiah, tidak bisa semuanya dikafirkan. Karena memang tidak mudah kita mengkafirkan orang, selama dia adalah seorang muslim seperti definisi Rasul di atas. Janganlah engkau mengkafirkan seseorang dari ahli kiblat. Kecuali jika pengingkarannya sangat nyata dan merupakan prinsip dalam agama.

لا تكفر أحدا من أهل القبلة

Jika ada orang mengatakan bahwa berzina dibolehkan itu adalah pengingkaran. Berbeda dengan orang yang melakukan perzinaan, tetapi dia masih meyakini bahwa berzina itu haram, maka orang ini telah berbuat maksiat dan berdosa besar. Sama seperti orang yang mengatakan bahwa shalat tidaklah wajib, berbeda dengan orang yang sekedar meninggalkan shalat, maka dia dihukumi maksiat dan berdosa besar.

Maka dari itu saya bersyukur, dan saya minta untuk mengajarkan ini kepada generasi berikutnya. Puji syukur kepada Allah bahwa Islam digariskan oleh Rasulullah dan tidak memberi ruang kepada siapa pun untuk mengurangi atau menambahi. Barang siapa yang bersyahadat, shalat, menunaikan zakat, berpuasa dan haji maka dia muslim tanpa memandang madzhabnya. Inilah madzab Imam Asy’ari dalam berakidah."

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel