Ayat dan Hadis tentang Hidup Sederhana dan Menyantuni Kaum Lemah

ayat dan hadis tentang hidup sederhana menyantuni kaum lemah

A.  Ayat-Ayat tentang Hidup Sederhana  dan Membantu Kaum Lemah

1.    Surah al-Furqan ayat 67

a.    Membaca dan Menerjemahkan

وَالَّذِيْنَ إِذَا أَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا (الفرقان: 67)


Artinya:
“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (Q.S. Al Furqan: 67).

b.    Isi Kandungan Surah al-Furqan ayat 67
Ayat ini adalah merupakan kelanjutan dari ayat-ayat sebelumnya yang berisi tentang ciri-ciri ‘ibadurrahman.Dalam tafsir al-Jalalain disebutkan bahwa sifat ‘ibadurrahman adalah ketika mereka berinfak pada keluarga, mereka tidak berlebihan dan tidak pelit. Mereka membelanjakan harta mereka di tengah-tengah keadaan berlebihan dan meremehkan. Intinya infak mereka bersifat pertengahan.
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa sifat ‘ibadurrahman adalah mereka tidak mubazir (boros) kala membelanjakan harta mereka, yaitu membelanjakannya di luar hajat (kebutuhan). Mereka tidak bersifat lalai sampai mengurangi dari kewajiban sehingga tidak mencukupi. Intinya mereka membelanjakan harta mereka dengan sifat adil dan penuh kebaikan. Sikap yang paling baik adalah sifat pertengahan, tidak terlalu boros dan tidak bersifat kikir.
Disebutkan dalam riwayat Ahmad, “Di antara tanda cerdasnya seseorang adalah bersikap pertengahan dalam penghidupan (membelanjakan harta).” Sebagian ulama mengatakan tentang maksud dari berlebih-lebihan dalam membelanjakan harta adalah menafkahkan harta dalam maksiat kepada Allah. Hasan al-Bashri berkata, “Nafkah yang dibelanjakan di jalan Allah tidak disebut boros (berlebihan).”

2.    Surah al-Isra: 26-27 dan Surah al-Isra: 29-30

a.    Membaca dan Menerjemahkan

وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلاَ تُبَذِّرْ تَبْذِيراً - إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُواْ إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُوراً (الإسراء: 26-27)


Artinya:
“(Dan berikanlah) kasihkanlah (kepada keluarga-keluarga yang dekat) famili-famili terdekat (akan haknya) yaitu memuliakan mereka dan menghubungkan silaturahmi kepada mereka (kepada orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros) yaitu menginfakkannya bukan pada jalan ketaatan kepada Allah. (Sesungguhnya orang-orang pemboros itu adalah saudara-saudara setan) artinya berjalan pada jalan setan (dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya) sangat ingkar kepada nikmat-nikmat yang dilimpahkan oleh-Nya, maka demikian pula saudara setan yaitu orang yang pemboros.” (Q.S. al-Isra’: 26-27)

وَلاَ تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلاَ تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ  مَلُوماً مَّحْسُوراً - إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَن يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيراً  بَصِيراً (الإسراء: 29-30)


Artinya:
“(Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu) artinya janganlah kamu menahannya dari berinfak secara keras-keras; artinya pelit sekali (dan janganlah kamu mengulurkannya) dalam membelanjakan hartamu (secara keterlaluan, karena itu kamu menjadi tercela) pengertian tercela ini dialamatkan kepada orang yang pelit (dan menyesal) hartamu habis ludes dan kamu tidak memiliki apa-apa lagi karenanya; pengertian ini ditujukan kepada orang yang terlalu berlebihan di dalam membelanjakan hartanya. (Sesungguhnya Rabbmu melapangkan rezeki) meluaskannya (kepada siapa yang Dia kehendaki dan membatasinya) menyempitkannya kepada siapa yang Dia kehendaki (sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya) mengetahui apa yang tersembunyi dan apa yang terlahirkan tentang diri mereka karena itu Dia memberi rezeki kepada mereka sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan mereka.” (Q.S. al-Isra’: 29-30)

b.    Isi Kandungan Surah Al-Isra’ ayat 26-27 dan 29-30

Berikut ini merupakan isi pokok kandungan dalam Q.S. Al-Isra’ ayat 26 - 27
  1. Allah swt. telah berfirman dan memerintahkan kepada kita semua sebagai umat Islam untuk memberikan atau menunaikan hak (berzakat, sedekah, infak, dll) kepada keluarga-keluarga yang dekat, orang miskin, musafir (orang yang dalam perjalanan).
  2. Dalam ayat ini berisi perintah untuk berbuat baik kepada kaum dhuafa seperti orang orang miskin, orang terlantar, dan juga orang yang dalam perjalanan.
  3. Hak lainnya yang harus ditunaikan adalah “mempererat tali persaudaraan dan hubungan kasih saya satu sama lain, saling bersilaturahmi, bersikap lemah lembut dan sopan santun, memberikan bantuan kepada mereka, dan memberikan sebagaian rizeki yang Allah swt berikan kepada kita semua.
  4. Selanjutnya Allah swt memberikan penegasan bahwa kita dilarang untuk menghambur-hamburkan harta yang kita miliki secara boros atau berlebihan, Islam mengajarkan kita kesederhanaan, sehingga kita harus membelanjakan harta sesuai dengan kebutuhan saja, seperlunya saja dan tidak boleh berlebihan.
  5. Dalam ayat yang ke 27 Allah berfirman bahwa orang-orang yang berperilaku boros adalah saudara-saudaranya setan.

Adapun isi kandungan dari Surah al-Isra’ ayat 29-30 adalah sebagai berikut:
  1. Allah swt. memerintahkan kepada hamba-hambaNya agar bersikap ekonomis dalam kehidupan dan mencela sifat kikir, serta dalam waktu yang sama melarang sifat berlebih-lebihan. Surah al-Isra’ ayat 29 ini juga menegaskan bahwa anggapan orang-orang Yahudi bahwa tangan Allah terbelenggu (maksudnya Allah bersifat kikir) itu salah. Kenyataannya, Allah Mahatinggi lagi Mahasuci, Mahamulia, dan Maha Pemberi.
  2. Namun di saat kita hendak membelanjakan harta, Allah swt melarang untuk berlaku berlebih-lebihan dengan cara memberi di luar kemampuan dan mengeluarkan biaya lebih dari pemasukanmu.
  3. Selanjutnya, dalam ayat 30, Allah swt. memberi penegasan bahwa Dialah yang memberi rezeki dan menyempitkannya. Dia pulalah yang mengatur rezeki makhlukNya menurut apa yang dikehendaki. Hal itu karena Dia Maha Melihat lagi Maha Mengetahui siapa yang berhak menjadi kaya dan siapa yang berhak menjadi miskin.

3.    Surah al-Qashash: 79-82

a.    Membaca dan Menerjemahkan

فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِىْ زِيْنَتِهِ قَالَ الَّذِيْنَ يُرِيْدُوْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَلَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا اُوْتِيَ قَارُوْنَ إِنَّهُ لَذُوْ حَظٍّ عَظِيْمٍ - وَقَالَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلاَ يُلَقَّاهَا إِلاَّ الصَّابِرُوْنَ - فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُوْنَهُ مِنْ دُوْنِ اللهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِيْنَ - وَأَصْبَحَ الَّذِيْنَ تَمَنَّوْا مَكَانَهُ بِالْأَمْسِ يَقُوْلُوْنَ وَيْكَأَنَّ اللهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَوْ لاَ أَنْ مَنَّ اللهُ عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَا وَيْكَأَنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الْكَافِرُوْنَ (القصص: 79-82)


b.    Isi Kandungan Surah Al-Qashash ayat 79-80

Ayat 79 dari surah al-Qashash mengandung makna suatu kisah umat terdahulu, yaitu Qarun yang hidup dengan bergelimang harta. Qarun hidup pada zaman Nabi Musa a.s., bahkan suatu riwayat mengatakan bahwa Qarun adalah anak paman Nabi Musa. Oleh Allah SWT. Qarun dikarunia harta melimpah. Begitu banyaknya harta yang dimiliki Qarun sehingga kunci anak gudang hartanya itu tidak bisa diangkat oleh puluhan oramg kuat. Namun sayangnya, harta yang melimpah itu membuat Qarun lupa diri dan menjadi takabur. Dia mengatakan bahwa hartanya yang banyak itu berkat hasil usahanya semata, bukan karena adanya rahmat Allah atau pemberian-Nya.
Pada suatu hari, Qarun keluar dari istana (rumahnya) dengan segala kemegahannya, dikawal oleh para punggawanya. Tujuannya adalah untuk memamerkan kekayaannya kepada masyarakat dan menunjukkan kehebatan dirinya dalam berusaha. Qarun berhasil memperdaya sebagian masyarakat dan diantara mereka ada yang berkata; “Alangkah senangnya seandainya kita diberi harta yang melimpah seperti Qarun, kita dapat menikmati hidup ini dengan sepuas – puasnya”.
Dinyatakan pada ayat berikutnya (80) bahwa orang yang mempunyai ilmu dan akal sehat, sama sekali tidak tertarik oleh harta yang dipamerkan Qarun tersebut. Apalah artinya harta jika tidak dapat mendatangkan kebahagiaan diakhirat. Mereka bahkan mengatakan bahwa pahala Allah SWT. Jauh lebih penting dan bernilai daripada harta melimpah bagi orang yang beriman dan beramal saleh. Sebab, harta yang tidak berkah seperti harta kekayaan Qarun tersebut hanya akan mendatangkan azab dari Allah SWT. Mereka yakin bahwa Allah hanya akan memberikan pahala kepada orang – orang yang beriman dan beramal saleh.
Selanjutnya (ayat 81 – 82), Allah menegaskan bahwa akibat kesombongan dan ketakaburannya, Qarun ditenggelamkan beserta seluruh harta kekayaannya ke dasar bumi dan tidak ditemukan bekas – bekasnya. Akhirnya, menjadi sebutan orang, setiap menemukan sesuatu yang bernilai dari dalam tanah, kita sering menyebutnya harta karun.
Ditenggelamkannya Qarun ke dasar bumi merupakan azab Allah yang harus diterimanya atas kesombongannya. Ketika azab Allah itu datang, tidak ada seorangpun yang mampu memberikan pertolongan kepadanya. Bahkan dia sama sekali tidak mampu menolong dirinya sendiri., apalagi menolong orang lain. Harta kekayaan yang disombongkannya juga tidak mampu berbuat apa – apa, kecuali ikut hancur musnah ditelan bumi.
Atas kejadian tragis yang menimpa Qarun beserta para pengikut setianya itu maka masyarakat yang sebelumnya menginginkan harta melimpah seperti yang dimiliki Qarun menjadi sadar dan kembali bertobat kepada Allah. Mereka menyadari bahwa harta benda sama sekali tidak bisa menolong dari azab Allah. Ia hanyalah titipan dan amanah yang harus digunakan sesuai dengan kehendak Allah. Jika tidak, maka harta itu akan mendatangkan bencana bagi pemiliknya, seperti halnya yang menimpa Qarun.

4.    Surah al-Baqaah: 177

a.    Membaca dan Menerjemahkan

لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَـكِنَّ الْبِرَّ  مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلآئِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى  الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ  وَالسَّآئِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ  بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُواْ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاء والضَّرَّاء وَحِينَ  الْبَأْسِ أُولَـئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ (البقرة: 177)


Artinya:
“(Kebaktian itu bukanlah dengan menghadapkan wajahmu) dalam salat (ke arah timur dan barat) ayat ini turun untuk menolak anggapan orang-orang Yahudi dan Kristen yang menyangka demikian, (tetapi orang yang berbakti itu) ada yang membaca ‘al-barr’ dengan ba baris di atas, artinya orang yang berbakti (ialah orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab) maksudnya kitab-kitab suci (dan nabi-nabi,) (serta memberikan harta atas) artinya harta yang (dicintainya) (kepada kaum kerabat) atau famili (anak-anak yatim, orang-orang miskin, orang yang dalam perjalanan) atau musafir, (orang-orang yang meminta-minta) atau pengemis, (dan pada) memerdekakan (budak) yakni yang telah dijanjikan akan dibebaskan dengan membayar sejumlah tebusan, begitu juga para tawanan, (serta mendirikan salat dan membayar zakat) yang wajib dan sebelum mencapai nisabnya secara tathawwu` atau sukarela, (orang-orang yang menepati janji bila mereka berjanji) baik kepada Allah atau kepada manusia, (orang-orang yang sabar) baris di atas sebagai pujian (dalam kesempitan) yakni kemiskinan yang sangat (penderitaan) misalnya karena sakit (dan sewaktu perang) yakni ketika berkecamuknya perang di jalan Allah. (Mereka itulah) yakni yang disebut di atas (orang-orang yang benar) dalam keimanan dan mengakui kebaktian (dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa) kepada Allah.” (Q.S. al-Baqarah: 177)

b.    Isi Kandungan Surah Al-Baqarah ayat 177

Surah al-Baqarah ayat 177 menjelaskan tentang hakikat daripada sebuah kebaikan. Yang dimaksud dengan kebaikan pada surah Al Baqarah Ayat 177 ini adalah beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan senantiasa mewujudkan keimanannya di dalam kehidupan sehari-hari. Contoh-contoh dari perbuatan baik tersebut antara lain sebagai berikut.
a.    Memberi harta yang dicintainya kepada karib kerabat yang membutuhkannya.
b.    Memberikan bantuan kepada anak yatim.
c.    Memberikan harta kepada musafir yang membutuhkan.
d.    Memberi harta kepada orang-orang yang terpaksa meminta-minta.
e.    Memberikan harta untuk memerdekakan hamba sahaya.
f.    Memjalankan ibadah yang telah diperintahkan Allah dengan penuh keikhlasan.
g.    Menunaikan zakat kepada orang yang berhak menerimanya.
h.    Menepati janji bagi mereka yang mengadakan perjanjian.
Dari ayat ini juga, kita mengetahui contoh golongan yang termasuk dalam kelompok orang-orang lemah. Mereka terdiri dari anak yatim, fakir, miskin, ibnu sabil (orang orang yang kehabisan bekal di perjalanan), para tawanan perang, orang yang tertimpa musibah, dan orang yang meminta minta. Mereka semua harus mendapat perlindungan dari negara dan bantuan dari manusia.
Pada kelompok dhu’afa dan mustadh’afin ini tersimpan sebuah potensi besar yang apabila digali akan menjadi suatu kekuatan luar biasa, sebagaimana firman Allah di atas. Karenanya, kelompok dhu’afa dan mustadh’afin perlu dibina, dihimpun, dan diberdayakan. Orang yang tidak memberi perhatian kepada golongan ini, dalam Islam disebut pendusta agama.

5.    Surah al-An’am: 1-7

a.    Membaca dan Menerjemahkan

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ - هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ طِينٍ ثُمَّ قَضَى أَجَلًا وَأَجَلٌ مُسَمًّى عِنْدَهُ ثُمَّ أَنْتُمْ تَمْتَرُونَ - وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ - وَمَا تَأْتِيهِمْ مِنْ آيَةٍ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِمْ إِلَّا كَانُوا عَنْهَا مُعْرِضِينَ - فَقَدْ كَذَّبُوا بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ فَسَوْفَ يَأْتِيهِمْ أَنْبَاءُ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ - أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ قَرْنٍ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ مَا لَمْ نُمَكِّنْ لَكُمْ وَأَرْسَلْنَا السَّمَاءَ عَلَيْهِمْ مِدْرَارًا وَجَعَلْنَا الْأَنْهَارَ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمْ فَأَهْلَكْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ وَأَنْشَأْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ قَرْنًا آخَرِينَ - وَلَوْ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ كِتَابًا فِي قِرْطَاسٍ فَلَمَسُوهُ بِأَيْدِيهِمْ لَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ مُبِينٌ (الأنعام: 1-7)


Artinya:
“Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka. Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan (untuk berbangkit) yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu). Dan Dialah Allah (Yang disembah), baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan. Dan tak ada suatu ayat pun dari ayat-ayat Tuhan sampai kepada mereka, melainkan mereka selalu berpaling daripadanya (mendustakannya). Sesungguhnya mereka telah mendustakan yang hak (Al Qur’an) tatkala sampai kepada mereka, maka kelak akan sampai kepada mereka (kenyataan dari) berita-berita yang selalu mereka perolok-olokkan. Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu), telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain. Dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas kertas, lalu mereka dapat memegangnya dengan tangan mereka sendiri, tentulah orang-orang yang kafir itu berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata”. (Q.S. al-An’am: 1-7)

b.    Isi Kandungan Surah Al-An’am ayat 1-7

Al-‘Aufi, Ikrimah, dan ‘Atha meriwayatkan dari Ibnu Abbas : Surat Al-An’am diturunkan di Makkah. Ath-Thabrany meriwayatkan dari Ibnu Abbas: Surat Al-An’am turun di Makkah pada waktu malam hari dengan sekaligus, dan bersama turunnya diiringi 70.000 Malaikat yang mengumandangkan tasbih di sekiarnya. As-Suddy meriwayatkan dari Murrah dari Abdullah : Surat Al-An’am turun dengan diiringi 70.00 Malaikat.
Pada ayat pertama, Allah Ta’ala berfirman dengan memuji diriNya yang mulia, menyanjung diriNya atas penciptaan makhlukNya, langit, dan penciptaan bumi sebagai tempat tinggal untuk hamba-hambaNya. Dia menjadikan pula adanya gelap dan terang yang bermanfaat bagi hamba-hambaNya baik pada malam hari maupun siang hari.
Setelah penjelasan ringkas dan jelas tentang penciptaan langit dan bumi, terang dan kegelapan, kemudian Allah berkata, “namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka.”
Dengan firman Allah di penutup ayat 1 surat al-An’am ini, Allah berkata bahwa dengan semua penjelasan itu, sebagian hambaNya tetap saja kafir. Mereka menjadikan sekutu – sekutu dan tandingan – tandingan bagi Allah. Mereka juga menjadikan Allah memiliki istri dan anak. Maha Tinggi Allah dari semua anggapan itu setinggi-tingginya.
Pada ayat kedua, yang dimaksud dengan menciptakan kamu dari tanah ini yakni Adam, yang merupakan nenek moyang dan asal mereka. Bermula Adamlah kemudian mereka lahir dan tersebar di timur dan barat. Sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu tentang hari kiamat.
Ayat ketiga menjelaskan bahwa Dialah Tuhan yang diseru, disembah baik di langit maupun di bumi. Dialah yang disembah dan diesakan, diakui sebagai Tuhan yang berhak diibadahi oleh semua yang ada di langit dan di bumi. Mereka menyembahNya dengan rasa takut dan penuh harap, kecuali sebagian dari golongan jin dan manusia yang kafir. Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan, yakni Dia Maha Mengetahui semua amalanmu, yang baik maupun yang buruk.
Pada ayat selanjutnya, Allah memberitahukan tentang orang – orang musyrik yang mendustakan dan mengingkariNya, bahwa setiap kali datang kepada mereka ayat, yang merupakan bukti – bukti dan mukjizat serta hujjah-hujjah yang menunjukkan keesaan Allah dan kebenaran Rasul-RasulNya, maka dengan serta merta mereka berpaling darinya, tidak mau memperhatikannya, dan tidak mempedulikannya.
Ayat kelima merupakan kecaman dan ancaman keras bagi mereka atas pendustaan mereka terhadap kebenaran. Bahwa pasti akan datang (kebenaran) berita yang mereka dustakan itu, pasti mereka akan mendapati akibatnya, dan pasti mereka akan merasakan akibat dari perbuatan mereka.
Lalu Allah memberikan nasehat kepada meraka, akan datangnya azab dan pembalasan dunia yang menimpa mereka sebagaimana telah terjadi pada orang–orang terdahulu, yaitu umat yang melakukan perbuatan serupa dengan perbuatan mereka. Sedangkan orang–orang sebelum mereka itu adalah orang–orang yang lebih kuat dari mereka, jumlah mereka lebih banyak, harta dan anak mereka juga lebih banyak, mereka juga lebih perkasa, dan kebudayaan mereka lebih maju.
Allah mengingatkan mereka dengan firmannya pada ayat keenam, “Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi.” Yaitu, keteguhan yang belum pernah Allah berikan kepada orang tersebut seperti harta dan anak-anak serta bangunan – bangunan generasi terdahulu itu lebih banyak dan lebih kokoh. Mereka memiliki pengaruh yang luas, kedudukan yang kuat, serta mereka juga memiliki bala tentara. Allah memperbanyak curah hujan dari langit, dan mengalirkan sumber – sumber air bagi mereka. Semua itu sebagai istidraj untuk memuaskan mereka.
Selanjutnya, Allah menciptakan generasi baru pengganti mereka untuk diuji. Lalu mereka (generasi baru itu) melakukan perbuatan yang sama dengan generasi sebelumnya, sehingga Allah hancurkan pula mereka sebagaimana menghancurkan generasi sebelumnya.
Maka berhati-hatilah, janganlah seseorang ditimpa seperti yang telah menimpa orang – orang sebelumnya. Sesungguhnnya di hadapan Allah, seseorang tidak lebih hebat dari orang-orang sebelum mereka. Sedang Rasul Muhammad Saw. yang mereka dustakan itu lebih mulia di sisi Allah daripada Rasul – Rasul yang didustakan oleh orang-orang sebelum kamu. Dan sekiranya bukan karena kelembutan Allah dan kebaikanNya, tentulah orang tersebut lebih berhak untuk mendapatkan azab dan lebih tepat untuk disegerakan siksaNya bagi kamu.


Perilaku Orang yang Mengamalkan Isi Kandungan Ayat Al-Qur’an

Islam tidak melarang umatnya memiliki harta sebanyak – banyaknya, bahkan sangat dianjurkan untuk berusaha sekuat tenaga mendapatkan harta yang banyak dan halal, dan menggunakannya sesuai dengan petunjuk Allah Swt. Berdasarkan ayat di atas, ada beberapa perilaku orang muslim yang mengamalkan isi kandungannya, yang dapat diidentifikasi dalam perilaku kehidupan sehari – hari, diantaranya sebagai berikut :
a. Tidak bersikap sombong dengan harta yang dimilikinya
Kebiasaan manusia, ketika memiliki suatu kelebihan selalu bersikap sombong dan angkuh. Namun, itu hanya dilakukan oleh orang – orang yang tidak beriman. Adapun bagi mereka yang memiliki keimanan yang kuat serta mengamalkan isi kandungan ayat Al-Qur’an, niscaya tidak bersikap sombong atas harta yang dimilikinya. Meskipun harta kekayaannya tersebut sangat melimpah ruah, tak terhitung jumlahnya dan tak ternilai harganya, namun ia tetap bersikap rendah hati, sopan dalam ucapan, santun dalam perbuatan, dan selalu bersikap dermawan kepada sesame. Dengan demikian, hartanya mendatangkan berkah dari Allah SWT.
b. Menjadikan harta sebagai media untuk beribadah kepada Allah SWT.
Harta adalah titipan Allah Swt., yang harus digunakan sesuai dengan kehendak pemberinya. Seorang yang beriman dan mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an , niscaya menjadikan harta sebagai media untuk beribadah kepada Allah Swt., baik dengan cara bersedekah, berzakat, maupun cara – cara lainnya. Jadi, semakin banyak harta yang dimilikinya, akan semakin rajin ibadahnya kepada Allah SWT.
c. Menjadikan harta sebagai media untuk mencari ilmu
Menyadari betapa pentingnya ilmu pengetahuan, baik ilmu agama maupun umum, tentu setiap muslim wajib mencari ilmu dan mempelajarinya sepanjang hayat. Untuk mencari ilmu dip;erlukan biaya yang cukup, maka adanya harta kekayaan dapat digunakan sebagai media atau alat untuk mencari ilmu. Semakin banyak harta seorang muslim, hendaknya semakin tinggi ilmu dan pendidikan yang didapatnya. Sebab dengan harta itu, peluang untuk mendapatkan ilmu dan pendidikan semakin terbuka luas.
d. Menghindari sikap boros
Harta memang manis dan sangat menyenangkan. Kita dapat melakukan apa saja dengan harta yang dimiliki. Tetapi seorang muslim yang beriman dan mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an, niscaya tidak akan melakukan perbuatan foya–foya, hura–hura, dan menghambur-hamburkan harta yang dimilikinya. Melainkan semakin bertambah hartanya, hidupnya semakin sederhana dan hatinya semakin merendah. Ia akan menggunakan hartanya sesuai keperluan dan sesuai petunjuk Allah SWT.


Penerapan Sikap Hidup Sederhana dan Menyantuni Kaum Lemah

Setelah mempelajari isi kandungan dari beberapa ayat di atas, hendaknya kalian dapat menerapkan perilaku hidup sederhana dan menyantuni kaum duafa dalam kehidupan sehari-hari. Untuk dapat menerapkan perilaku terpuji seperti disebutkan diatas, hendaknya kalian perhatikan terlebih dahulu beberapa hal berikut ini.
  1. Tanamkan keyakinan bahwa harta itu tidak ada yang abadi, ia hanya titipan sementara dari Allah Swt., yang semuanya akan dimintai pertanggungjawaban dan kembali kepada Allah Swt..
  2. Tanamkan keyakinan bahwa harta hanya akan mendatangkan manfaat dan berkah jika digunakan sesuai dengan petunjuk Allah Swt, dan jika tidak maka harta akan mendatangkan azab dan bencana bagi pemiliknya.
  3. Tanamkan keyakinan bahwa di dalam harta yang kita miliki, terdapat hak orang lain, yaitu kaum lemah, seperti fakir miskin, anak yatim, dan terlantar. Mereka mempunyai hak atas harta yang kita miliki, dan hak itu harus diberikan kepada mereka.
  4. Biasakanlah bergaul dengan orang yang memiliki perilaku hidup sederhana agar kita dapat meneladaninya pada kemudian hari.
  5. Hindari bergaul dengan orang yang suka hura-hura dan menghamburkan hartanya, sebab kita akan terbawa arus pergaulannya.

B. Hadis tentang Hidup Sederhana dan Membantu Kaum Lemah

1.    Hidup Sederhana dalam Hadis Rasulullah Saw.

Sikap sederhana selalu dipraktekkan oleh Rasulullah saw. dalam kehidupan beliau. Beliau adalah manusia yang memerintahkan umatnya untuk selalu hidup sederhana dan beliau pula yang mempraktekkan pertama kali. Sikap sederhana ini beliau praktekkan dalam semua lini kehidupan, baik tutur kata, penampilan, bahkan dalam berwudu. Berikut adalah lafalnya:

أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِسَعْدٍ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ فَقَالَ : “ مَا هَذَا السَّرَفُ؟ “ فَقَال : أَفِي الْوُضُوءِ إِسْرَافٌ؟ فَقَال : «نَعَمْ وَإِنْ كُنْتَ عَلَى نَهْرٍ جَارٍ»


Artinya
Rasulullah Saw. berjalan melewati Sa’d yang sedang berwudu dan menegurnya,”Kenapa kamu boros memakai air?”. Sa’ad balik bertanya,”Apakah untuk wudu pun tidak boleh boros?”. Beliau Saw menjawab,”Ya, tidak boleh boros meskipun kamu berwudu di sungai yang mengalir. (H.R. Ibnu Majah  dan Ahmad)

Isi Kandungan Hadis

Dari hadis yang diriwayatkan oleh imam Tirmidzi di atas, setidaknya kita bisa mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
  1. Kita dilarang untuk berlaku boros dalam semua lini kehidupan.
  2. Larangan boros juga berlaku pada wudu. Artinya, saat kita berwudu maka kita dilarang untuk berlebih-lebihan dalam menggunakan air sehingga nampak kemubaziran di dalamnya. Bahkan larangan berlebih-lebihan dalam menggunakan air wudu pun ditekankan dengan sabda beliau ‘meskipun kamu berwudu di sungai yang mengalir’.

2.    Menyantuni Kaum Lemah dalam Hadis Rasulullah Saw.

الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُوْلُ وَخَيْرُ الصَّدَقَةِ عَنْ ظَهْرِ غِنًى وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعَفِّهِ اللهُ وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ


Artinya
“Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu. Dan sebaik-sebaik sedekah adalah yang dikeluarkan dari orang yang tidak membutuhkannya. Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya maka Allâh akan menjaganya dan barangsiapa yang merasa cukup maka Allâh akan memberikan kecukupan kepadanya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Isi Kandungan Hadis

Maksud ‘tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah’ adalah bahwa orang yang memberi lebih baik daripada orang yang menerima, karena pemberi berada di atas penerima, maka tangan dialah yang lebih tinggi.
Kata “Al-Yadus Suflâ” (tangan yang dibawah) memiliki beberapa pengertian. Makna Pertama, artinya orang yang menerima, jadi maksudnya adalah orang yang memberi lebih baik daripada orang yang menerima. Namun ini bukan berarti bahwa orang yang diberi tidak boleh menerima pemberian orang lain. Bila seseorang memberikan hadiah kepadanya, maka dia boleh menerimanya, seperti yang terjadi pada Sahabat yang mulia ‘Umar bin Khaththab ra. ketika beliau menolak pemberian dari Rasûlullâh Saw , maka Rasûlullâh Saw. bersabda kepadanya, “Ambillah pemberian ini! Harta yang datang kepadamu, sementara engkau tidak mengharapkan kedatangannya dan tidak juga memintanya, maka ambillah. Dan apa-apa yang tidak (diberikan kepadamu), maka jangan memperturutkan hawa nafsumu (untuk memperolehnya).” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Makna kedua, yaitu orang yang minta-minta, sebagaimana dalam sabda Nabi saw.:

اَلْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى، اَلْيَدُ الْعُلْيَا هِيَ الْمُنْفِقَةُ، وَالسُّفْلَى هِيَ السَّائِلَةُ


“Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Tangan di atas yaitu orang yang memberi infak dan tangan di bawah yaitu orang yang minta-minta.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Makna yang kedua ini terlarang dalam syari’at bila seseorang tidak sangat membutuhkan, karena meminta-minta dalam syariat Islam tidak boleh, kecuali sangat terpaksa.
Sabda “Dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu” berarti saat ingin memberikan sesuatu, hendaknya manusia memulai dan memprioritaskan orang yang menjadi tanggungannya, yakni yang wajib ia nafkahi. Menafkahi keluarga lebih utama daripada bersedekah kepada orang miskin, karena menafkahi keluarga merupakan sedekah, menguatkan hubungan kekeluargaan, dan menjaga kesucian diri, maka itulah yang lebih utama.
Sabda Nabi Saw. “Dan sebaik-sebaik sedekah adalah yang dikeluarkan dari orang yang tidak membutuhkannya” artinya sedekah terbaik yang diberikan kepada sanak keluarga, fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan adalah sedekah yang berasal dari kelebihan harta setelah keperluan terpenuhi. Artinya, setelah dia memenuhi keperluan keluarganya secara wajar, baru kemudian kelebihannya disedekahkan kepada fakir miskin.
Adapun kalimat “Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya dari kejelekan, maka Allâh akan menjaganya” dan “barangsiapa merasa cukup (dengan karunia Allâh), maka Allâh akan mencukupinya” merupakan dua kalimat yang saling berkaitan. Hal itu karena kesempurnaan penghambaan diri seorang hamba kepada Allâh Azza wa Jalla terletak dalam keikhlasannya kepada Allâh, takut, harap, dan bergantung kepada-Nya, tidak kepada makhluk. Oleh karena itu, wajib baginya untuk berusaha merealisasikan kesempurnaan tersebut, mengerjakan semua sebab dan perantara yang bisa mengantarkannya kepada kesempurnaan tersebut. Sehingga dia menjadi hamba Allâh yang sejati, bebas dari perbudakan seluruh makhluk. Dan itu didapat dengan mencurahkan jiwanya pada dua perkara;
  1. Meninggalkan ketergantungan pada seluruh makhluk dengan menjauhkan diri dari apa-apa yang ada pada mereka.
  2. Merasa cukup dengan Allâh Azza wa Jalla , percaya dengan kecukupan-Nya, karena barangsiapa bertawakkal kepada Allâh Azza wa Jalla , maka Allâh Azza wa Jalla akan mencukupinya.
Dari hadis di atas, maka kita dapat mengampil kesimpulan untuk bisa dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Kesimpulan itu adalah sebagai berikut:
  1. Orang yang memberi lebih baik daripada orang yang menerima.
  2. Dianjurkan bersedekah dan berinfak kepada kaum Muslimin yang membutuhkan.
  3. Minta-minta hukumnya haram dalam Islam.
  4. Bila seseorang diberi sesuatu tanpa diminta, maka ia boleh menerimanya.
  5. Seorang Muslim wajib memberi nafkah kepada orang yang berada dalam pemeliharaan, seperti isteri, anak, orang tua dan pembantu.
  6. Dimakruhkan menyedekahkan apa yang masih dibutuhkan atau menyedekahkan seluruh apa yang dimilikinya, sehingga dia tidak terpaksa meminta-minta kepada orang lain.
  7. Sebaik-baik sedekah yaitu sedekah yang diambilkan dari kelebihan harta setelah kebutuhan kita terpenuhi.
  8. Memelihara diri dari meminta-minta dan merasa cukup dengan pemberian Allâh dapat membuahkan rezeki yang baik dan jalan menuju kemuliaan.
  9. Orang yang menjaga kehormatan dirinya (‘iffah), maka Allâh akan menjaganya.
  10. Orang-orang yang tidak meminta-minta kepada manusia, maka dia akan mulia.
  11. Orang yang qanâ’ah (merasa puas dengan rezeki yang Allâh karuniakan), dia adalah orang yang paling kaya.
  12. Orang yang merasa cukup dengan rezeki yang Allâh karuniakan kepadanya, maka Allâh Swt. akan mencukupinya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel