Pengertian Nabi dan Rasul beserta Tugas dan Sifatnya

Allah swt. menciptakan manusia di dunia ini tidak tanpa tujuan. Mereka diciptakan agar menyembah Allah swt.. Untuk mengenal Allah, manusia telah dibekali 4 hidayah, yaitu insting, panca indera, akal, dan agama. Jika tiga hidayah yang pertama telah diterima, maka hidayah yang keempat membutuhkan seorang utusan. Terkait hal tersebut, diutuslah Nabi dan Rasul untuk mengenalkan manusia kepada Tuhannya.

1. Pengertian Nabi dan Rasul


Pengertian Nabi dan Rasul beserta Tugas dan Sifatnya
Tahukah kamu, apa perbedaan antara nabi dan rasul?

Nabi adalah seorang dengan jenis kelamin pria yang mendapatkan wahyu dari Allah SWT. namun tidak wajib disebarkan kepada orang lain. Sedangkan rasul yang berarti utusan adalah orang yang menerima wahyu dan berkewajiban menyampaikannya kepada orang lain atau umat manusia.

Definisi rasul ini menggambarkan kepada kita bahwa Rasul sebagai manusia terbaik di antara manusia lainnya. Sehingga apa yang dibawa, dibincangkan dan dilakukan adalah sesuatu yang terpilih dan mulia dibandingkan dengan manusia lainnya.

Allah SWT. berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-An’am ayat 48

وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِيْنَ إِلاَّ مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ ..............

Artinya: Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberikan kabar gembira dan memberi peringatan. (Q.S. al-An'am: 48)

Adapun jumlah nabi dan rasul secara pasti tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah swt.. Namun sebagai orang Islam, kita diwajibkan untuk mengimbani 25 nabi/rasul. Dua puluh lima nabi/rasul tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Nabi Adam a.s. 
  2. Nabi Idris a.s. 
  3. Nabi Nuh a.s. 
  4. Nabi Hud a.s. 
  5. Nabi Saleh a.s. 
  6. Nabi Ibrahim a.s. 
  7. Nabi Luth a.s. 
  8. Nabi Ismail a.s. 
  9. Nabi Ishaq a.s. 
  10. Nabi Ya’qub a.s. 
  11. Nabi Yusuf a.s. 
  12. Nabi Ayub a.s. 
  13. Nabi Zulkifli a.s. 
  14. Nabi Syu’aib a.s. 
  15. Nabi Musa a.s. 
  16. Nabi Harun a.s. 
  17. Nabi Daud a.s. 
  18. Nabi Sulaiman a.s. 
  19. Nabi Ilyas a.s. 
  20. Nabi Ilyasa a.s.
  21. Nabi Yunus a.s. 
  22. Nabi Zakaria a.s. 
  23. Nabi Yahya a.s. 
  24. Nabi Isa a.s. 
  25. Nabi Muhammad SAW

2. Tugas dan Sifat Rasul


Status sebagai Nabi dan Rasul tidak dapat diusahakan oleh siapapun. Jika seseorang misalnya menghabiskan seluruh waktunya untuk beribadah dan meninggalkan segala macam kesenangan dunia dengan harapan mudah-mudahan diangkat menjadi Nabi, tentu harapannya akan sia-sia belaka. Sebab status itu hanyalah semata-mata pemberian Allah Swt.. Allah-lah yang memilih dan menentukan siapa yang akan diangkat-Nya menjadi Nabi saja atau menjadi Nabi dan Rasul sekaligus.

Sebelum seseorang diangkat menjadi Nabi ataupun Rasul, Allah Swt. telah menjaga dan memelihara kepribadiannya, kebaikan nasabnya, dan kemuliaan akhlaknya serta keadaan masyarakat di lingkungannya. Saat keadaan masyarakat membutuhkan bimbingan moral dan rohani, maka kebutuhan diutusnya nabi dan rasul sangatlah penting. Oleh karena itu, seorang nabi ataupun rasul memiliki sifat wajib, sifat mustahil, dan sifat jaiz.

a. Sifat Wajib dan Sifat Mustahil bagi Rasul Allah

Secara umum setiap Nabi dan Rasul memiliki sifat-sifat yang mulia dan terpuji sesuai dengan statusnya sebagai manusia pilihan Allah Swt.. Namun demikian secara khusus, setiap Rasul memiliki empat sifat yang erat kaitannya dengan tugasnya sebagai utusan. Keempat sifat tersebut adalah sebagai berikut:

1) As-Shidqu (benar), artinya selalu berkata benar dan tidak pernah berdusta dalam keadaan bagaimanapun. Apapun yang dikatakan oleh seorang Rasul baik berupa berita, janji, kabar, dan lain-lain selalu mengandung kebenaran. Lawan kata dari as-Shidqu adalah al-Kadzibu (bohong).

2) Al-Amanah (dipercaya), artinya seorang Rasul selalu menjaga dan menunaikan amanah yang dipikulkan ke pundaknya. Perbuatannya akan selalu sama dengan perkataannya. Dia akan selalu menjaga amanah kapanpun dan di manapun, baik dilihat dan diketahui oleh orang lain maupun tidak. Lawan kata dari al-Amanah adalah Al-Khiyanah (berkhianat).

3) At-Tabligh (menyampaikan), artinya seorang Rasul akan menyampaikan apa saja yang diperintahkan oleh Allah Swt. untuk disampaikan. Tidak akan ada satupun bujukan atau ancaman yang menyebabkan dia menyembunyikan sebagian dari wahyu yang wajib disampaikannya. Lawan kata dari at-Tabligh adalah al-Kitmaan (menyembunyikan).

4) Al-Fathanah (cerdas), artinya seorang Rasul memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi, pikiran yang jernih, penuh kearifan dan kebijaksanaan. Dia akan mampu mengatasi persoalan yang paling dilematis sekalipun tanpa harus meninggalkan kejujuran dan kebenaran. Lawan kata dari al-Fathanah adalah al-Baladah (bodoh).

b. Sifat Jaiz bagi Rasul Allah


Sifat jaiz bagi Rasul artinya Rasul adalah manusia biasa yang memiliki sifat kemanusiaan pada umumnya. Sifat-sifat tersebut seperti membutuhkan makan, minum, merasa haus dan lapar, terkena sakit, butuh tidur, juga membina rumah tangga. Jadi, rasul adalah manusia biasa yang memiliki sifat dan kebutuhan seperti manusia pada umumnya, yang mendapat kepercayaan dan merupakan orang pilihan Allah.

c. Tugas Rasul Allah


Semua Rasul yang diutus oleh Allah Swt. mempunyai tugas yang sama yaitu menegakkan kalimat tauhid La Ilaha Illallah, mengajak umat manusia hanya beribadah kepada Allah semata, menjauhi segala macam Thaghut dan menegakkan Agama (iqamatu ad-din) Islam dalam seluruh kehidupan.

Tentang hal ini, Allah Swt. berfirman dalam surah Al-Anbiya’ ayat 25, “Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya 'Bahwasannya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (Q.S. al-Anbiya': 25)

Menurut buku Karakteristik Umat Terbaik karangan Ali Abdul Halim Mahmud, secara garis besar tugas rasul dapat dikemukakan sebagai berikut:
  • Membimbing akal manusia untuk mengenal Allah Swt. serta untuk beribadah kepada-Nya dan mentauhidkan-Nya.
  • Menjelaskan kaidah-kaidah keadilan dan kebenaran kepada manusia, mengatur kehidupan mereka, dan membatasi hubungan antarmereka.
  • Memberikan batasan tentang keutamaan-keutamaan dan menyeru manusia kepadanya, dan menerapkan perkara-perkara yang hina serta mencegah manusia agar tidak melakukannya.
  • Menerangkan keadaan akhirat dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya berupa pahala, siksa, surga, dan neraka.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel