Perbedaan Fakir dan Miskin

Perbedaan Fakir dan Miskin
Kata fakir dan kata miskin seakan memiliki kesamaan arti, bahkan ada yang menyebut bahwa keduanya adalah sama. Namun pada dasarnya kedua kata tersebut memiliki perbedaan. Hal ini terlihat saat ayat al-Qur'an menyebut dua golongan tersebut dalam bagian mustahik zakat (penerima zakat).

Dalam surah at-Taubah ayat 90, Allah menyebut golongan fakir dan golongan miskin sendiri-sendiri. Ini mengindikasikan bahwa antara fakir dan miskin memiliki perbedaan. Untuk tingkatannya sendiri, para ulama ternyata berbeda-beda, ada yang menyebut bahwa fakir lebih kesusahan daripada miskin ataupun sebaliknya miskin lebih kesusahan daripada fakir. Namun pendapat yang lebih kuat menyebut bahwa orang fakir lebih kesusahan daripada orang miskin.

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Orang fakir lebih kesusahan daripada orang miskin. Orang miskin adalah orang yang punya harta/penghasilan, namun tidak mencukupinya, sedangkan orang fakir tidak punya harta/penghasilan sama sekali. Ini adalah pendapat asy-Syafi’i serta jumhur ahli hadits dan ahli fiqih.” Ini pula pendapat Ibnu Hazm azh-Zhahiri.

Dijelaskan lagi oleh Ibu Katsir dalam kitab fikih bahwa orang yang fakir adalah orang yang sakit menahun sehingga menyebabkan dirinya tidak bekerja dan tidak mempunyai penghasilan. Dari sini, bisa ditarik kesimpulan bahwa orang yang fakir adalah orang yang tidak mempunyai pekerjaan karena sakit sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhannya dan keluarganya.

Dalil-dalil yang ada menunjukkan secara jelas hakikat fakir dan miskin, serta perbedaan keduanya. Jadi, jika digandengkan maka keduanya berbeda dengan perbedaan yang disebutkan di atas. Namun, perlu diketahui bahwa jika disebutkan kata fakir secara tersendiri, maknanya meliputi miskin. Demikian pula jika kata miskin disebutkan secara tersendiri, maknanya meliputi fakir.

Yang diperhitungkan dalam penetapan miskinnya seseorang adalah kebutuhannya dalam setahun penuh. Hal ini berdasarkan pertimbangan bahwa periode setahun merupakan periode perputaran haul harta zakat yang senantiasa dikeluarkan zakatnya setiap akhir tahun.

Apabila dia berkeluarga, yang diperhitungkan bukan semata-mata kebutuhan dia sendiri, melainkan kebutuhannya bersama seluruh anggota keluarga yang dia tanggung nafkahnya. Apabila penghasilan dan hartanya tidak mencukupi untuk kebutuhan bersama keluarganya dalam setahun, dia termasuk miskin.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel